Cerpen Menunggu Rindu
“Nah, sudah selesai.” Perempuan berambut putih itu menatap wajahnya dalam cermin lemari tuanya. Rambut putihnya telah disanggul rapi. Lalu dia memandang lelaki tua yang berdiri di belakangnya yang juga memandangnya sambil mengemas senyum bibir keriputnya.
“Siapa kau? Kenapa kau di sini?” tanyanya bingung.
Aba Juari namanya, mengusap kepala istrinya perlahan. Perempuan itu merasa sebuah ketenangan. Semilir angin sejuk menelusup dari terali kayu jendela rumah panggungnya.
“Oh. Indu. Indu sudah mengirim surat?” tanyanya tiba-tiba. Indu adalah putri bungsu mereka berdua. Lelaki tua itu beranjak ke sudut kamar, meraih sebuah kotak kayu. Membukanya, mengambil satu helai kertas lusuh yang terlipat.
“Apa kabar, Umak[1] dan Aba. Semoga selalu sehat. Rindu di sini sehat-sehat saja, Umak, Aba. Rindu sibuk sekali menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Hingga jarang bisa menulis surat.”
“Bandung, delapan Januari ...” Lelaki itu berhenti sejenak ketika akan menyebut tahun.
“Bandung, delapan Januari dua ribu sembilan belas,” sebutnya, melanjutkan bacaannya. Aslinya surat itu ditulis pada tahun dua ribu tiga. Setelah tahun dua ribu tujuh, Rindu lebih suka menelpon dan mengirim SMS.
Rindu sudah lulus kuliah lima belas tahun lalu, tetapi sang anak gadis, tidak ingin lagi pulang ke dusun terpencil Sumatera ini. Rindu lebih memilih tinggal bersama suaminya di kota besar, kota yang telah membuatnya terlena dengan kemudahan dan kemewahannya.
“Ini sudah tahun dua ribu sembilan belas ya, Ba. Rasanya Indu sudah lama sekali kuliah?”
“Iya, Dek, Indu masih kuliah. Kalau tidak begitu, mana mungkin dia tak pulang-pulang.” Aba tersenyum, dengan harap cemas.
Sesekali ingatan istrinya kembali dan mengingat bahwa Rindu sudah punya dua orang anak. Hanya saja selama sepuluh tahun itu baru dua kali Rindu mengunjungi mereka dengan anak-anaknya. Pertama, ketika cucunya itu masih batita, dan yang kedua ketika mereka PAUD, itu juga sembari meminta warisannya. Setelah itu tak pernah lagi.
“Ba, Mas Arya sedang susah, Ba. Rindu mau minta tolong, Ba. Mas Arya bilang mau buka kantor hukum sendiri, tapi dana kami kurang, kira-kira butuh uang tiga ratus juta lagi.” Telepon Rindu suatu hari.
“Aba tak punya uang sebesar itu, Nak.”
“Aba punya banyak kebun dan tanah. Rindu hanya minta sebagian kecil saja hak Rindu. Bang Bujang kalau minta selalu Aba kasih. Apa Aba kira, Rindu tak tahu?” Lelaki tua itu menghela napas.
“Iya, Indu. Aba usahakan ya.” Akhirnya dia menyetujui. Dengan menjual dua bidang kebun karet.
“Indu, sesekali pulang ya, Nak. Umakmu selalu mencarimu setiap dia bisa mengingat. Pulanglah, Nak. Sebelum Umakmu meninggal.” Suaranya parau mengucap itu.
“Iya, Ba. Indu pasti akan pulang. Kalau Mas Arya sudah sukses dengan kantor barunya. Sekarang kami sedang tak punya mobil, Ba. Sudah dijual. Kasian anak-anak, Ba, kalau pulang ke Dusun tak pakai mobil. Mereka tak biasa terlunta-lunta di jalan, naik angkutan umum.” Menuju dusunnya, dari terminal jalan raya, mesti naik angkutan umum dan terbuka, panas dan jalan-jalan di sana belum semuanya beraspal.
“Iya, Nak. Iya.”
***
“Assalamu’alaikum, Aba.” Lelaki tua itu tergopoh menyambut telepon dari si Bujang, begitulah panggilan anak tertuanya.
“Bujang, walaikumussalam, Nak. Apa kabar, Nak. Sehat?” Lelaki tua itu sungguh semringah. Rindu yang mereka rindukan tak kunjung datang, siapa tahu anak bujang mereka yang akan pulang menjenguk mereka.
“Bujang sehat, Ba. Oh iya. Bujang butuh suntikan dana, Ba. Mau bukan cabang baru usaha kami nih. Sebenarnya butuh uang lima ratus juta. Tapi tiga ratus juta cukup, Ba.”
Lelaki tua itu terpekur lama. Dia menghela nafas. Perlahan dia berusaha tersenyum, meski senyum itu tak bisa dilihat oleh anaknya.
“Aba tak punya uang, Nak.”
“Aba. Kita masih banyak kebun karet dan kebun kopi, Ba. Apa Aba masih perlukan kebun-kebun itu. Nantikan itu akan diwariskan pada Bujang juga.”
“Nak, itu bagian adikmu. Rindu. Sudah Aba jual. Adikmu memerlukan uang untuk membantu usaha suaminya.”
“Apa! Apa Rindu tak punya otak. Kenapa pula dia jual kebun keluarga untuk suaminya yang bodoh itu!” Bujang menyumpah serapah. Aba Juari termangu. Mendengar umpatan dan makian anaknya.
“Jadi apa yang tersisa, Ba. Masih ada kebun lain ‘kan? Bujang tahu harta kita banyak. Jual saja berapa yang ada, Ba. Kirimkan dalam minggu ini!”
Kebun-kebun sudah banyak dijual setiap keduanya perlu uang. Selain untuk kuliah, mereka juga terus menerus meminta uang untuk biaya hidup.
“Iya, Nak. Kapan kau akan pulang, Nak. Menjenguk ibumu?”
“Nantilah itu. Bujang sibuk.” Airmata yang sedari tadi ditahannya, jatuh bergulir ke wajah keriputnya.
“Itu Bujang, Ba. Dimana dia, Ba?” Aba Juari hanya bisa diam memandang istrinya.
“Oi anak Oi, Umak rindu sekali dengan Bujang, Nak.” Istrinya meratap-ratap. Lelaki tua itu lalu memeluknya.
“Mereka akan pulang. Mereka akan pulang. Lebaran ini mereka akan pulang.” Bisik suaminya. Tiba-tiba si istri menyentak pelukan itu.
“Siapa kau? Kenapa memelukku?”
“Aku Juari. Suamimu.”
“Suami? Juari. Rasanya aku pernah dengar nama itu.” Aba Juari tersenyum sabar.
“Aku mau makan,” kata sang istri.
“Kau sudah makan setengah jam yang lalu, Dek.”
“Mana? Mana yang sudah? Aku lapar.”
“Baiklah. Tunggu ya.” Lelaki tua yang sangat sabar itu tertatih menuju dapur. Mengambilkan sepiring nasi untuk istrinya. Kadang-kadang penyakit demensia yang diderita istrinya itu juga melegakannya.
***
Aba Juari memandang sehelai surat bertanda tangan jual beli yang telah disepakati. Setelah kertas itu berpindah tangan. Tidak ada lagi harta yang mereka punyai. Semua sudah selesai. Hanya rumah panggung, satu-satunya yang tersisa.
Suami istri tua itu memandang langit berbintang setelah salat Isya, bintang-bintang berkedip-kedip ramai. Mereka melihatnya dari pembaringan. Jendela kamar dibuka lebar-lebar, sehingga bisa melihat pemandangan itu. Indah sekali.
Ponsel kecil yang terletak di atas lemari rias istrinya berkedip terus menerus dari tadi. Aba Juari tidak melihatnya. Akhirnya ponsel itu berhenti berkedip.
Mata lelaki tua itu menerawang, mengingat masa puluhan tahun silam.
“Amirah.” Dia memanggil nama istrinya. “Amirah, dulu kau gadis paling cantik di dusun ini, tingkah lakumu sungguh elok dan memikat. Semua orang mengasihimu. Kau memang sebaik itu. Kau memang seelok itu.”
“Padahal aku hanya gadis miskin biasa, tetapi kau sangat menyukaiku. Kau juga pemuda baik. Tidak seperti saudaramu yang lain, sombong dan besar kepala.”
“Aku membuat syair, kutitip pada temanmu. Sejak itu kita berkasih secara rahasia. Ketika tahu kau menyukai syair, aku jadi terus menerus mengirim syair ...”
“Syair yang berjudul ‘rindu’ itu. Syahdu sekali. Lebih merdu daripada lagu-lagu melayu yang sering kudengar.”
“Syair itu membantuku memilikimu.”
“Menjadikannya sebagai azimat. Bahkan kalau kita tak jadi menikah, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.”
“Kita menikah. Kau berkeras jika anak kita perempuan namanya Rindu.”
“Rindu kecil kita sangat cantik ya. Kesayangan Umak dan Abamu.”
“Rindu kesayangan semua orang. Dia mirip denganmu.” Airmata mengambang di pelupuk mata Aba Juari.
“Bujang juga kesayangan semua orang. Waktu kecil, sangat baik dan menyayangi kita.”
“Bujang kecil sangat pintar. Juga pintar mengaji. Dia paling menonjol dari semua teman-temannya.”
“Iya. Rindu dan Bujang anak-anak yang manis dulu. Disukai teman-temannya, pintar, periang dan lucu.” Airmata Mak Amirah mengalir. Aba Juari melihat dan mengusapnya perlahan.
“Rindu, rasanya sudah lama tak pulang, Ba,” bisik istrinya. “Bujang juga.” Suaranya terdengar sangat pelan.
“Waktu cepat sekali berlalu.” Perempuan tua itu berguman lagi. “Aku lelah. Ingin tidur.”
“Tidurlah duluan, Dek.”
Aba Juari melihat ponselnya berkedip, tetapi dia merasa terlalu lemah untuk meraih benda itu.
“Rindu nggak bisa pulang, Ba. Ini musim pandemi. Jadi tak boleh keluar kota.” Alasan anak bungsunya, waktu telepon terakhir. Ah musim pandemi itu panjang sekali ternyata. Matanya kian mengabur, dikedipnya pelan lalu menoleh kesamping, melihat istrinya terlelap dengan damai. Aba Juari tersenyum sambil membenahi selimut mereka. Perlahan dia juga memejamkan matanya.
***
Enab istri Aden, tetangga sebelah rumah Aba Juari, menghentikan langkah suaminya, yang baru saja pulang dari ladang.
“Bang, kita ke rumah Aba Juari ya. Aku mimpi tak enak malam tadi. Hari ini, dari pagi belum terbuka pintunya.”
Setelah berganti pakaian, Aden dan istrinya kerumah Aba Juari. Aden berkeliling rumah panggung itu. Aden terkejut ketika melihat jendela kamar Aba Juari terbuka. Dia melihat ke dalam dan lebih terkejut lagi dua sosok terbaring seperti tidur begitu lelapnya.
“Aba. Aba Juari. Mak, Mak Mirah!” Aden memanggil-manggil dengan suara keras.
Enab menuju suara suaminya yang berteriak memanggil-manggil. Mereka ternganga melihat kedua manusia yang sudah sepuh itu terbaring seperti sedang berpelukan, tetapi tak terganggu dengan kehadiran mereka berdua.
“Mereka berdua tidur apa meninggal, Bang?”
Aden akhirnya meraba terali jendela itu dan membukanya, lalu masuk bersama istrinya. Mendekati tubuh mereka. Dia meletakkan jarinya di hidung Aba Juari, lalu Mak Mirah. Aden terduduk.
“Innalillahi, Dek. Panggil tetangga-tetangga kita, aku akan kerumah pak RT dan Pak Ustadz. Mereka sudah meninggal, Dek.”
Wajah Enab telah berurai airmata, dia meraih ponsel di atas lemari rias. Bermaksud memberitahu kematian kedua orang itu pada temannya, Rindu.
Sebuah SMS masuk dari nomor Rindu.
[Ba, Rindu perlu uang, Anak-anak terancam kelaparan, Ba. Usaha Mas Arya ditutup sementara, karena bermasalah dengan izinnya. Maaf sekali ya, Ba. Rindu terpaksa meminta uang lagi.]
Kepalanya menggeleng beberapa kali, airmatanya semakin deras jatuh. Dia mengetik SMS balasan dengan jari gemetar.
[Abamu sudah meninggal, Rindu.]
--End--
Lubuklinggau, 23 Desember 2021

Komentar
Posting Komentar