Puisi Puisi 2023 (Memenang beberapa Event)
Batu-Batu, Mata Abu dan Rindu
/1
Batu-batu, tanah tapal, tiang jeramba
membentuk peradaban. Kau yang lugu dan sahaja
Mencatat harapan, membilang hitungan.
Kail-kail mengumpan, ikan-ikan terjaga
Ikan-ikan kecil itu mengambil cinta.
Berhampar kepada tilam, kalian berebutan
dadamu buncah. Besok kulempar kail lagi ibu,
katamu sebelum rebah
Rumah tua dan lampu dinding
Wajah keriput sebentar risau
Perapian menyala menguar bau sedap ikan-ikan berau
Kau yang bercerita dengan epiknya
waktu itu. Matanya kilau!
/2
Batu-batu, kerikil pecah, menggelinding jalan aspal
Peluh-peluh merayakan setiap pagi
Masa kanak yang jengkal. Kita tunaikan harapan rekah
Kepada jalan-jalan, lembah rumput dan petualangan entah
Sekali waktu, ingatan itu menyisip dalam tidurmu lelah
Sekali-kali kau pulang, Nak, Bisiknya cemas
Kisah-kisah lampau, terlewati seperti kematian.
Aku butuh banyak obat tidur, katanya kemudian
Hening sarat, lalu sepi demikian larat
/3
Batu-batu menulis, riwayat kemang musim hujan
Pohon itu bisa menghilangkan seorang yang dilupakan
Bagaimana aku lupakanmu, Ibu. Kau azimatku
sepanjang hayatku, katamu sambil tertawa
Mata abu menyusuri langit-langit hitam
ingatannya kian samar
Sepertinya waktu telah lama berhenti di sini, Nak
Apa di kota, waktumu juga berhenti?
Rindu yang sama, partikel-partikel menumpuk
Ini, itu. Sebentar juga berlalu
Dunia tetap seperti semula
Lagi-lagi, seperti yang sudah-sudah
/4
Batu-batu gemuruh, jeram tempias
jangan diluar saat hujan panas
Kadang kala petuah ibu suka menjadi kutukan
Temanmu hilang pusaran deras. Pelangi berwarna gegas
Hujan panas siang tadi, kudukmu berdesir
Dia yang pulang, sepi pelan menggulir. Dingin!
Mengingat partikel bertumpuk
Angka-angka dan laporan, tak terakumulasi lagi
Banyak malam setelah itu, kau yang butuh obat tidur.
Lubuklinggau, 31 Januari 2023
Rapsodi Ibu
Kukenang ibu. Meletak rindunya
pada sungai-sungai, pohon nau, batang kopi
dan wangi kayu. Suatu hari dipikulnya kayu-kayu itu
menjadi jembatan. Pada kaki kecil kami
menapak semesta berputaran, penuh kerlipan
Seperti kunang-kunang!
Kau memanggil pulang dari lantunan
kegelapan ganjil riang kanak-kanak
berlari menembus gerimis romantis
bulan November, sedikit melankolis
Aku merapal mantra, doa-doa dari negeri yang entah
tetapi, Ibu. Aku tahu bagaimana hitungannya
kita bahagia, memberiku batu-batu
menoreh permukaannya. Lalu sedih ditulis
kepada pasir-pasir.
Tanah merah kau dilahirkan, bukit-bukit yang jauh
hikayat perempuan-perempuan subuh
yang suka dilupakan, yang sering dikalahkan
perumpamaan-perumpamaan yang tidak diingat.
Jangan kalah, Nak. Menanak bijak, mengatur tutur
Sebab sejarah dimulai dari lembut sabdamu.
tetapi aku juga tahu hitungannya kita bermimpi, ibu!
Terhadap daun-daun kecil yang tidak menyerah
terhadap sungai-sungai yang tidak mengalah!
Kau isyaratkan rasa dalam lipatan buku lama
Aromanya wangi kayu
menyimpan resep kue putri salju
Aku menantinya hati-hati
sambil menghitung bulan yang tidak utuh
satu persatu sampai hari kelima belas
Malam menjadi lebih gelap
suara jangkrik terdengar menyedihkan
ibu, kunang-kunang itu pergi kemana?
Ibu keras kepala, mencatat semangat gegas
bukit terjal, tebing-tebing terbis dan pohon rangga
Sampai garis waktu mencentang tangannya pecah
sampai warna matanya sedikit abu.
teruslah menawan, Nak. Nanti mereka juga rebah
nanti mereka juga ramah. Untuk hidup yang begitu lama.
Masa yang lama, musim-musim cemas
juga kerinduan tentang anak sungai!
Apa yang pantas apa yang tidak
apa yang mesti apa yang tidak
seperti pengembara yang kehilangan
rumah dan terus berjalan di jalan
perlahan kepada ujungnya
Lalu marwah mulailah kepada kisah-kisah
cukup perempuan diingat sebagai itu, hangat seperti itu
Karena peradaban dimulai dari wangi cintamu!
Lubuklinggau, July 2023
APA KAU MASIH BERMIMPI
apa kau masih bermimpi tentang suatu hari yang biasa, sayangku
rumah kecil yang di dalamnya ada anak kucing yang lucu
dan suara denting garpu, kau yang tidak terburu-buru
menungguku membenahi dasi di lehermu
kau bicara padaku, buku apa yang telah kau siapkan sore ini
aku tersenyum sambil terus menyodorkan secangkir kopi
bukankah kita telah lama tidak bersepeda
melihat-lihat Kasiye[1] dari jembatan, seberangnya Bukit Sulap
yang tak begitu populer
kita terus memandangnya dari sisi manapun[2]
mungkin dulunya merupakan ciptaan pangeran untuk tuan putrinya
cerita yang romantis, bukan
ah, apakah sore ini kau ingin mendengar cerita baru tentang bidadari
yang menyembunyikan ketenangan pohon-pohon di balik selendangnya
lalu mata air mengalir sempurna, inang-dayang rindu [3]
pada musim durian, monstera dan kabut yang dingin
bunga kopi menelusup dari huma yang jauh
nanti akan kuceritakan saat lampu jalan semakin redup
jalan-jalan yang semakin malam, hanya suaraku yang terdengar
apa kau masih bermimpi tentang suatu hari yang biasa, sayangku
beberapa orang suka menulis namanya di pasir
tidak apa-apa kalau kau tak ingin lagi melihat waktu yang kau tinggalkan
yang juga ditinggalkan orang-orang
nanti kau juga rindu dengan hutan-hutan kami
nanti kau juga terpesona pada lereng bukit kami
kau tidak perlu mencariku untuk bertanya
apa aku masih setia menunggumu di jeramba itu
karena kenangan menjadikan dirinya langit
lalu bintang pada malam harinya
kau dan aku terus berjalan-jalan, kabut mulai turun
hanya suaraku yang terdengar!
Lubuklinggau September, 2023
[1] Nama sebuah sungai
[2] Bukit Sulap di Lubuklinggau akan terlihat dari manapun kita berdiri
[3] Nama beras yang wangi
Apa Itu Cinta
suara kendaraan yang melaju kencang
meninggalkan suara memekakkan
apa yang tengah dikejarnya
apa yang membuat dia begitu terburu
kita bicara cinta sepanjang malam
seperti membaca mantra
ujung rumput di mulut sepatu kian menipis
sirine kedatangan memekak, waktu yang tepat
perempuan sedih menyukai pertanda-pertanda
kau yang hilang kau yang datang
azan subuh terdengar nyaman
bulan sendiri berwarna sephia
cinta yang disimpan diam-diam
perempuan tabah menyusun mimpi
dalam lemari satu dan lainnya
menceritakan semua kenangan
menjadi ksatria dalam mimpi panjangnya
lain waktu menghilang dari tidur yang berikutnya
mereka menandai bulan dan tanggal sebelum pergi
wajah sepi dalam semua ruang
dari satu sudut yang tak terlihat, atau di bawah jendela
perempuan yang terus menanti kekasih
‘tariklah aku lagi keduniamu, saat kau mulai bosan’
Ah apakah itu cinta?
mungkin dia adalah hati yang sedih
yang lupa tentang anak anaknya
mata bening menunggu ibu memasak
dalam tungku yang tak pernah selesai
mungkin dia salah satu kisah yang tak terperi
dari negeri ciptaan kunang kunang
yang suka memberi petunjuk pada orang-orang yang tersesat
mungkin dia hanya sorot mata lugu
kanak kanak yang berpesta saat bulan purnama
dari ilusi nenek yang menutuk alu di bulan
mungkin dia adalah kekasih yang terus mencari
entah mati tidak ketahuan
entah diculik orang-orang bunian
kita tahu cinta itu hebat dan menabjukan
tetapi terus ragu
apa itu cinta
September, 2023

Komentar
Posting Komentar