Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

 


Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang?

 

Ada sebuah legenda. Orang-orang dusun itu percaya pada sebuah cerita yang diceritakan secara turun temurun. Anak-anak yang dilahirkan oleh gadis kampang[1] akan menjadi ikan Semah. Ikan yang terkenal oleh kelezatan dagingnya.

“Aku lebih suka anak itu menjadi teratai,” ujarnya, “pun tidak terlihat dari pemukiman yang ‘katanya’ beradab, dia tetap bunga yang elok.” Meniru ucapan umak-nya. Perlambang yang nyata atas paradoks. Keindahan yang tidak memilih tempat untuk hidup. Berkubang dalam kolam yang kotor, menjadi ratu bagi sekitarnya.

Sina tentu bebas memilih apa yang dia inginkan. Dia salah satu anak yang disebut dengan sematan kotor itu. Ikut menanggung dosa yang diturunkan sang ibu tapi menolak melupakan kegigihan wanita itu. Melebihi puisi perempuan perkasa yang dia lupa siapa penulisnya.

Ibunya melahirkannya sendirian di bukit batu. Wanita itu percaya, ketabahannya akan mengubah nasibnya, untuk kemudian terjatuh ke dalam jurang yang dia tidak tahu sampai mana kedalamannya.

Orang-orang mengatakan Sina sebagai anak haram. Menjadikan ibunya yang malang sebagai simbol kemarahan dari langit. Kesialan jika panen gagal ataupun penyebab segala pangkal bahala yang terjadi bertahun-tahun kemudian. Lihat, teriak mereka. Karena kita membiarkan wanita sundal hidup di tanah ini, tempat ini jadi terkutuk. Bahkan hujan muak singgah di tempat ini!

Dia yang tidak mengenal Tuhan waktu itu. Apa tekad yang terbentuk dalam hatinya. Dia yang berusaha mati-matian, menembus kabut dan berjalan dengan penuh harapan, percaya besok matahari adalah miliknya juga. Jika bukan hari ini, makanya besoknya lagi. Jika tidak sekarang, bisa jadi nanti. Ibu Sina terus percaya mereka bisa bertahan, terus begitu sampai mayatnya ditemukan menyangkut pada batu-batu bukit dengan menggenaskan.

“Kenapa Umak tidak memilih mati sebelum aku dilahirkan?” matanya menuntut, “itukah bentuk harapan?”

“Atau karena Umak begitu percaya utopia dari dongengan leluhur? Menjadikan nasibnya juga sama buruknya,” tandasnya setiap kali aku tak bisa menjawabnya.

“Utopia diciptakan. Bukan menunggu!” Sina tersenyum saat malam berinai. Dia resmi menjadi pengantin orang paling kaya di dusun kami. Membenarkan harapan umaknya. Keputusan yang naif. Membuatnya hancur lebih cepat!

**

Husen dengan cekatan memindahkan ikan-ikan berwarna putih kekuningan itu dari bubu jarang ke dalam ember yang dia siapkan. “Sedang musim hujan, banyak kaberau[2] mudik, Sen. Tangkapan yang luar biasa.” Aku membantu temanku itu memindahkan ikan-ikan yang rata-rata sebesar lengan anak remaja itu. Mata Husen berbinar-binar.

“Lumayan, Man. Sebagian bisa dijual. Ngomong-ngomong ini bukan ikan kaberau, Man.” Ikan kaberau siripnya biasanya berwarna merah. “Itulah ikan semah. Kau harus merasakannya. Sebagian akan dibuat pindang nanas. Kau mampirlah ke rumah!” Husen menatapku sebentar.

“Ya, kalau saja kau masih sudi duduk dengan alas tikar bambu.”

“Ah, kau bisa saja.”

“Kepulanganmu jadi berita riuh. Mereka membicarakan pakaianmu yang konon mirip bintang film. Aku sampai takut kau tak mau kenal kami lagi.”

Tak lama kami menyudahi pekerjaan itu.

“Ada apa menyusul ke sini? Kau ingin bertanya tentang Sina?”

Husen menghela napas sebelum bercerita.

“Pada malam pekat dan hujan deras, dia menggendong bayi dan menyeret anaknya yang masih kecil, kira-kira usianya tiga tahun. Menuju hutan bambu. Sina bilang seperti mendengar suara pucuk-pucuk bambu. Pucuk bambu katanya terdengar seperti tangisan wanita dalam malam yang gelap. Mirip suara umaknya yang memanggil-manggil.”

“Apa yang dia lakukan?”

Husen menggeleng.

“Lalu anak-anak itu?”

“Hilang.”

“Hilang? Meninggal?” Aku memastikan. Husen menggeleng. “Hilang sebenar-benarnya hilang. Orang-orang menyebutnya silam[3]. Atau diculik Mak Sumai[4]. Entah mana yang benar.”

Aku tertawa, “Kita tahu itu tidak mungkin. Mak Sumai hanya cerita karangan orang-orang tua untuk menakut-nakuti kita yang masih kecil agar tidak nakal.”

Husen hanya tersenyum tipis.

“Jadi tidak ada yang benar-benar tahu ke mana anak-anak itu?”

“Hanya Sina dan setan hutan bambu itu yang tahu.”

Kami terus melangkah dengan pikiran masing-masing.

“Seharusnya Sina tidak meninggalkanmu. Dia akan aman kalau terus bersamamu.”

“Dia tidak harus melakukan,  jika tidak ingin.”

Saat ibu Sina ditemukan meninggal, gadis kecil itu diambil anak oleh orangtuaku. Hal itu juga membuat kegaduhan, warga kampung terus menganggapnya anak haram sebagai pembawa sial sama seperti ibunya. Mereka ingin Sina juga dibuang dari kampung. Untungnya Umak dan Bapak berhasil meyakinkan warga, bahwa dosa ibunya tidak bisa dilimpahkan pada gadis itu.

“Salman.” Husen memanggilku sesaat sebelum kami melintasi gerbang itu. Aku hanya tersenyum dan mengangguk meyakinkannya.

Kami mulai memasuki selasar rumah sakit yang sesaat terlihat seram dari luar. Seorang perawat mengantarkan kami untuk melihatnya. Perempuan itu dulu adalah gadis paling cantik, bahkan sempat menjadi kembang desa. Tingginya permintaan membuatnya besar kepala, Sina memilih orang yang dianggapnya menawarkan harga tertinggi, anak pesohor kampung yang juga sekaligus tuan tanah.

“Kau harus realistis, Salman. Hidup itu butuh uang. Bukan cinta.”

Sina hanya ingin membalas dendam pada nasibnya yang buruk. Aku tahu.

“Kuharap kau menemukan gadis yang tepat dan bisa bahagia. Selamat tinggal!”

Wanita cantik itu kini kehilangan warnanya. Wajahnya masih sama, lebih tirus dan kurus. Rambutnya yang legam disisir rapi lalu dikuncir satu ke belakang. Dia masih mempunyai kecantikannya, tapi bukan kecantikan yang sama lagi. Entahlah apa yang hilang, hingga terlihat sedikit menyeramkan.

Dia menatapku, tatapan yang asing.

“Sina, apa kau masih mengenalku?” Aku bertanya sedikit ragu.

Sina hanya terus memandang. Iris yang dulu berwarna hitam cemerlang sekarang menjadi kosong dan hampa. Setelah beberapa lama, Sina tetap diam seperti patung. Kami akhirnya pamit pada perawat penjaga.

“Sungguh ironi. Dia mengira bisa merubah nasibnya dengan menikah dengan orang paling kaya. Sekarang hanya berupa raga tanpa jiwa.” Husen berdecak. Jika tidak melihat langsung, rasanya tidak percaya gadis pemilik tawa merdu itu menjadi demikian menyedihkan.

“Bagaimana dengan suaminya.

“Semakin makmur!”

“Maksudku, dia baik-baik saja dengan keadaan Sina?”

“Menikah lagi, tentu saja! Tidak hanya satu tapi tiga. Banyak anak juga. Konon katanya istri kedua lelaki itu juga ...” Husen berhenti dan menatapku, sepertinya dia menyadari sesuatu.  “Beberapa orang dari anaknya juga hilang.”

Sinar matanya juga berubah sekarang.

“Kau percaya legenda itu?” Aku bertanya.

“Aku baru ingat sesuatu. Ikan-ikan itu meski masih hidup tapi terlihat sangat pasrah. Seperti mata-mata bocah yang sedang memohon.”

“Kau terlalu memercayai mitos itu.” Aku tertawa sambil meninggalkan Husen.

**

Ada yang belum aku beritahu. Konon katanya kalau kita membuang anak-anak dari gadis kampang ke sungai, maka sungai itu akan mengembalikan pada kita dengan berlebih.

Aku memandang perbatasan kampung itu dengan seringai puas. Perbatasan yang sama saat kami bertemu pada malam itu. Malam perayaan yang biasanya hanya terjadi saat musim panen. Malam itu, seisi dusun sedang merayakan kelahiran cucu dari pesohor kampung.

“Kau percaya bayi yang baru lahir adalah anakmu?” Aku tersenyum sambil melinting rokok nipah dengan tembakau terbaik dari daerah ini.

“Apa maksudmu!” Sudah kuduga lelaki dewasa tanggung itu mudah sekali dihasut.

“Kau pernah dengar cerita gadis kampang biasanya akan melahirkan anak kampang juga.”

“Apa maksud kau!” dia berteriak sekarang. Tangannya mencengkram kerah leher kemejaku. Aku tertawa sambil melepaskan tangannya dari sana.

“Tahi lalat di paha kiri Sina sangat sedap dilihat, bukan?”

Matanya yang tadi merah, sekarang memucat. Aku tergelak-gelak sesaat. “Kau tahu, kampung kita memercayai mitos ikan semah. Anak dari gadis kampang biasanya bisa menambah kemakmuran pemeliharanya.” Aku berbisik sambil menepuk-nepuk bahunya, “dengan mengubahnya jadi ikan.”

Sama seperti utopia diciptakan. Legenda itu juga mesti diciptakan!

 

End

2025



[1] Anak yang dilahirkan di luar nikah

[2] Nama ikan sungai

[3] Hilang dari dunia secara literal, menjadi tidak ada.

[4] Makhluk mitos yang konon katanya suka meculik anak-anak kecil.


Komentar

  1. Pernah diikutkan juga lomba sebelumnya, aku menghilangkan beberapa point sehingga fokus pada inti yang ingin aku sampaikan, bukan tentang legenda itu. Mitos ikan semah adalah penjelmaan anak kampang pernah mungkin hanya terkenal di daerah kami saja, ikan ini terkenal dengan kelezatannya, dan tidak pernah ditemukan saat kecil, paling tidak sebesar lengan anak remaja (kisaran 500gr ke atas di sungai kelingi) warnanya kekuningan dan rasanya sangat lezat. Waktu masih kecil ikan ini pernah dihargai 100rb saking langka dan lezatnya. Aku tidak tahu darimana mulanya dibilang anak kampang, entah benaran mitos atau karangan orang-orang tua saja supaya kami tidak terobsesi sama ikan ini karena langka. Aku ingat Bapak ada sekali dua membelinya, tapi aku lupa rasanya. Mungkin benaran lezat, tapi menurutku ikan sungai ya sama aja sih hehe. Ikan semah katanya ada vibes manis apa, ya. Aku tak pernah melihat orang menjualnya lagi setelah dewasa. Tidak dijual di pasar. Penjualnya biasanya adalah ahli dalam mencari ikan ini dan sekarang yang tertarik mencari ikan ini jauh berkurang makanya mungkin tidak ditemukan lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)