Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Gambar
  Rindu, dan Dongeng-Dongengnya Oleh: Dimarifa Dy   Kita bukan anak kecil yang begitu muluk hidup dengan pangeran tampan, mencintai dan membuatku bahagia sepanjang hidupnya , happily ever after . K ita bukan ABG-ABG itu yang sibuk mempercantik diri, menebar pesona dan merasa ‘aku’ di dunia, bukan itu lagi. “Ini akhirnya , Rin?” Tak tahu itu lebih berupa jeritan, atau amarah “Mana dongeng-dongengmu? Mana cinta yang katamu, kau akan menemukannya!” Aku memandangnya. “Kita sudah tiga puluh. Sebentar lagi sudah kepala empat . Usia kita tak pantas lagi bicara cinta. Ada banyak alasan yang lebih penting daripada itu. Pandangan umum, usia, keturunan, status! Sebagai istri. Cuma itu kesudahan perempuan-perempuan seperti kita.” “ M eskipun menikah dengan orang asing.” “Mas Hendr a bukan orang asing. Kami telah saling mengenal sejak lama.” “Dalam konteks cinta yang kau agungkan, itu tidak benar kan, Rindu?” “Apa bedanya?” “ K au tak pernah bergetar bila menatapnya,...

Sebab Neraka Terlalu Lama (Jawa Pos 24-11-24)

Gambar
  Sebab, Neraka Terlalu Lama Oleh: Dimarifa Dy   Orang yang takut dosa-dosa kecil mengkhawatirkan dirinya tak beruntung. Menjadikan lampu merah sebagai tanda orang yang beruntung atau tidak. Menjadikan hal-hal kecil lainnya sebagai beruntung atau tidak. Menjadikan hal-hal yang lepas darinya sebagai kesialan dan sebagainya. Mereka tidak menghitung dosa yang besar. Dosa besar ya dosa saja. Akan dibakar di neraka. Mutlak. Begitulah wejangan itu terus menerus disematkan ke telingaku. “Ada sebuah pembunuhan yang terjadi dan mayatnya disembunyikan dalam plafon rumahmu. Darahnya menetes kental. Garis line memenuhi ruangan itu ... “Orang orang lalu, menyebut kita penyintas.” Aku berkata sambil menghela napas, “Ah rasanya mimpi itu berlebihan, kenapa aku justru bermimpi mengerikan begitu saat kau akan menjelang hari bahagiamu.” “Menurutmu apa lebih baik, aku membatalkan saja pernikahan kami?” Gadis itu memandangku dengan ketakutan yang kentara. Aku tersenyum dan memegang...

Puisi Puisi Dimarifa Dy di Basa Basi

Gambar
  Obituari yang terus menunggu itu waktu, Nak ayahmu berharap kau muncul di sana membayangkan kalian memancing di sungai menunggunya di bawah pohon jarak dia tanyakan lelaki tua yang sendirian kenapa mereka dilupakan (barangkali) mainan baru yang lebih menyenangkan? kau tidak percaya cerita-cerita ibu dan terus pergi menemuinya lalu berkata: betapa sepinya menjadi kita! kabarnya soalan itu juga retorika, Nak dari pemuda lusuh menenteng laptop dan sebotol air mineral bergegas menuju mesjid dalam dilema cicilan ini itu dia juga dulunya diam saja penindasan anak-anak tuna sosial tidak ada yang melerai semua orang sibuk mengambil video anak-anak itu bersumpah ‘pekatnya darahku, hitamkan jalananmu’ kau bicara dengan antusias memakai kemeja warnanya abu kemarin matahari terang sekali kau akan pergi pada acara penghargaan yang tidak pernah disiarkan oleh media mana pun hari lebaran, Nak anak-anak kecil hidup meriah opor dan...

Hikayat Orang Biasa (Tempo 07-12-2024)

Gambar
  orang-orang biasa yang berjalan dalam hutan cukup percaya diri, beberapa rasi dan pohon ibu memberinya sebotol jewawut bapak membekalinya daun jeruk purut lainnya mengisi ransel itu dengan rempah rempah yang tak bisa dibedakan mulanya   mereka diajak berpetualang dari siasat diceritakan sebentar anak-anak tersesat Hansel mengendap-endap rumah penyihir Gretel menahan diri untuk tidak menyingkir   perempuan tua tersenyum ramah membuat bangsal pelancong, berwarna lampion dari rumah permen dan kue balon ketika daun daun itu berubah menjadi teh cukuplah. Kita tidak perlu berdiri di tebing batu mengumumkannya   cerita selanjutnya sedikit membakar muncul dari cinta berdebar, terus menebar berdiri sebagai keramat paling depan bersikeras terhadap hal yang tak relevan menyalakan kembang api, menyerahkan akal   asal muasal sang sang anjing penjelmaan dewa jatuh cinta kepada tuan putri kesepian sungguh Dayang Sumbi tak...