Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)
Rindu, dan Dongeng-Dongengnya Oleh: Dimarifa Dy Kita bukan anak kecil yang begitu muluk hidup dengan pangeran tampan, mencintai dan membuatku bahagia sepanjang hidupnya , happily ever after . K ita bukan ABG-ABG itu yang sibuk mempercantik diri, menebar pesona dan merasa ‘aku’ di dunia, bukan itu lagi. “Ini akhirnya , Rin?” Tak tahu itu lebih berupa jeritan, atau amarah “Mana dongeng-dongengmu? Mana cinta yang katamu, kau akan menemukannya!” Aku memandangnya. “Kita sudah tiga puluh. Sebentar lagi sudah kepala empat . Usia kita tak pantas lagi bicara cinta. Ada banyak alasan yang lebih penting daripada itu. Pandangan umum, usia, keturunan, status! Sebagai istri. Cuma itu kesudahan perempuan-perempuan seperti kita.” “ M eskipun menikah dengan orang asing.” “Mas Hendr a bukan orang asing. Kami telah saling mengenal sejak lama.” “Dalam konteks cinta yang kau agungkan, itu tidak benar kan, Rindu?” “Apa bedanya?” “ K au tak pernah bergetar bila menatapnya,...