Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

 


Rindu, dan Dongeng-Dongengnya

Oleh: Dimarifa Dy

 

Kita bukan anak kecil yang begitu muluk hidup dengan pangeran tampan, mencintai dan membuatku bahagia sepanjang hidupnya, happily ever after. Kita bukan ABG-ABG itu yang sibuk mempercantik diri, menebar pesona dan merasa ‘aku’ di dunia, bukan itu lagi.

“Ini akhirnya, Rin?” Tak tahu itu lebih berupa jeritan, atau amarah “Mana dongeng-dongengmu? Mana cinta yang katamu, kau akan menemukannya!”

Aku memandangnya.

“Kita sudah tiga puluh. Sebentar lagi sudah kepala empat. Usia kita tak pantas lagi bicara cinta. Ada banyak alasan yang lebih penting daripada itu. Pandangan umum, usia, keturunan, status! Sebagai istri. Cuma itu kesudahan perempuan-perempuan seperti kita.”

Meskipun menikah dengan orang asing.”

“Mas Hendra bukan orang asing. Kami telah saling mengenal sejak lama.”

“Dalam konteks cinta yang kau agungkan, itu tidak benar kan, Rindu?”

“Apa bedanya?”

Kau tak pernah bergetar bila menatapnya, kau tak pernah bahagia bila dia menatapmu ...”

“Dia lebih tua 15 tahun, dan kau tahu alasannya terlambat menikah, orang-orang mengatakan orientasi seksualnya ...” Nina menarik napas panjang. Itulah yang sebenarnya kenapa dia begitu keberatan, aku hanya berakhir dengan pria seperti itu.

“Kau pernah bilang, kau tak bisa membayangkan tidur dengan orang asing. Dan memastikan, bahwa cinta dengan segala cerita dan dongeng yang pernah kau percaya, masih ada di dunia ini.”

Aku tersenyum getir, “satu hal yang demikian asing dari kehidupan ini, Nina, love is lie. Memercayai cinta itu ada, sekaligus juga tidak benar-benar percaya ia ada!”

“Kau menolak orang-orang yang lebih pantas demi dongeng-dongeng itu.” Nina bersikeras. “Kenapa harus Hendra, Rin?”

Aku mengingat bagaimana kami menghabiskan masa remaja hingga dewasa. Berganti pria dengan satu dan yang lain. Bosan dan jenuh. Jatuh cinta lagi, lalu jatuh cinta lagi pada yang lainnya, terus dikhianati atau mengkhianati. Memuas rasa ingin yang tak pernah berhenti. Tak ada yang kesudahan dari hal seperti itu.

“Mereka juga tidak pantas.” Mereka terlatih jadi pengkhianat. Mereka menjadikan perempuan seperti barang. Pilihan pertama pilihan kedua dan seterusnya. Mereka tak pernah cukup.

Tetapi aku justru berkata, “apa yang lebih baik dari menata hidup seperti perempuan-perempuan lainnya? Menikah dengan pria mapan, berkecukupan, memberinya keturunan, mengurus anak, membesarkannya, menikmati peran sebagai ibu rumah tangga ... aku hanya ingin merasakan nikmat seperti itu!” Nikmat menjadi perempuan sebenarnya. Takdir perempuan sejak penciptaannya. Aku bosan sendirian, bosan bertanya, bosan berandai-andai, andai begini andai begitu.

“Aku hanya ingin hidup normal. Bukan perempuan kesepian yang haus, sunyi, sendirian dan kerepotan menata hidupnya demi sesuatu yang tak pasti. Demi obsesi Cinderella atau Snow White. Dongeng itu sungguh tak relevan.” Aku tertawa.

Kau mencintainya?” klise, tapi Nina menanyakannya.

“Kenapa tidak?”

Itu bukan jawaban.”

Aku hanya tersenyum. Kalau saja kau tahu, alasan sebenarnya dari pernikahan ini. Alasan yang tak masuk akal. Apalagi dilakukan oleh seorang wanita sepertiku, perempuan kaku dan sulit itu! Entah apa yang akan kau katakan.

Aku bukan anak yang terlahir dari keluarga broken home, meski tidak benar-benar begitu. Orangtuaku mungkin menyayangiku, cara menunjukkannya yang buruk. Aku juga menyayangi mereka. Meskipun kadang-kadang aku lebih suka, mereka tak ada saja dalam hidupku.

Aku ingat saat masih kecil, terpilih sebagai salah satu peserta pagelaran pentas seni yang diadakan sekolah kami. Penyelenggara mengajukan syarat pada malam pentas, anak-anak itu harus didampingi orangtua. Aku merasa sangat senang. Aku pikir orangtuaku pasti antusias dan bangga dengan itu.

Ibu tak mau datang. Katanya pentas itu katanya hanya untuk orang-orang kaya, bukan orang miskin seperti kami. Aku merajuk dan tak berniat menghentikannya, sampai Ibu mendandaniku dan memakaikanku baju yang lumayan bagus, sebagai pertanda kami akan pergi. Ibu menyuruhku menunggu, yang entah menunggu apa.

Dalam pikiranku yang lugu sibuk mengkhayal bisa ikut pentas. Ibu akan bertepuk tangan paling keras, kemudian menceritakan  penampilanku pada Bapak, berharap Bapak yang tnpa ekspresi itu akhirnya tersenyum ...  beberapa lama, aku masih menunggu, sampai kelelahan dan jatuh tertidur. Kami tak pernah pergi  ke pentas itu. Itu kebohongan pertama yang aku ingat.

“Kau bisa apa? Kau hanya bikin malu. Lihatlah, apa mereka bahkan tak memberimu baju yang layak untuk tampil!” Begitu kata Ibu saat aku bertanya.

Sejak itu aku tak pernah menginginkan apa pun. Tidak pernah menargetkan apa pun. Ibu tidak pernah lagi membahas malam itu. Aku juga tidak berminat mengetahui hal lainnya. Aku hanya terus berpura-pura bahagia. Bahagia dalam ukuran anak-anak. Menyembunyikan tangis, mengemas rapi setiap keinginan yang tak terpenuhi. Sejak tahu keluargaku penuh kepura-puraan, aku merasa asing dengan mereka. Aku terus menjauh, mengucilkan diri dalam duniaku yang sepi. Menciptakan dunia fantasi dalam dongengku sendiri.

Betapa sepinya hidup seperti itu. Kami tak seperti keluarga lainnya. Hangat dan terlihat bahagia. Menyimpan perasaan kosong dan pertanyaan, kenapa kami berbeda. Aku hanya harus terbiasa begitu. Di tengah mereka dan mencoba hidup layak seperti orang-orang yang lainnya, mencintai mereka, bertahan, dan itulah salahnya.

Aku merasa tidak pernah dilibatkan dalam apa pun. Aku hanya penonton yang berada di pinggir jalan. Walaupun mereka sesekali meminta ini itu, aku akhirnya hanya menggeleng. Perasaan yang kosong. Aku tidak punya ketertarikan dan antusias. Aku benci semua hal. Sungguh perasaan menjengkelkan.

“Cinta yang aku tak tahu  bagaimana menafsirkannya ... begitulah kami menjadi orang-orang kesepian!”

Jangan bilang kamu lakukan ini untuk sebuah status. Aku tak percaya itu!”

“Aku ingin bahagia. Bukan kebohongan. Bukan hari-hari yang sepi itu lagi!”

Aku melangkah “Akan kubilang sebenarnya. Kenapa aku bisa melakukan hal yang kau sebut lelucon ini ...” Berhenti di depannya, “ Aku tak pernah tahu bagaimana mengenalnya. Aku terlalu banyak membaca dongeng. Tersihir oleh cerita-cerita fiktif yang katamu pada zaman apapun, akan tetap fiktif. Aku percaya ia ada dan kukira juga akan terus begitu ...”

“Aku tak pernah menemukannya. Tak pernah tergetar akan seorang pria, tak pernah menemukan diriku berdebar dan menginginkan mereka. Dalam sini, hanya ada perasaan kosong yang aku tidak tahu itu apa?”

Nina mundur dengan wajah pias. “Jangan bilang ...” Suaranya bergetar, bayangan Mas Hendra yang sedikit melambai itu mungkin berkelebat dalam pikirannya.

Aku tak pernah berani menyimpulkan begitu!” bantahku, “karena aku juga tak pernah merasa tertarik pada jenisku sendiri.”

“Aku yang begitu ingin cinta. Begitu percaya cinta, tapi aku tidak ditakdirkan untuk merasakannya.” Tersenyum tipis. “Untuk begitu banyak cinta yang dihamparkan-Nya di muka bumi, nol koma sekian persen-pun Tuhan tidak menakdirkannya ia juga ada disini.” Aku menunjuk dadaku.

Aku tak normal kan, Nin? Sebut saja begitu. Sejak kecil hidupku dipenuhi kebohongan, aku terbiasa dengan berbohong. Dan rupanya aku tak bisa lepas darinya.”

Aku membalikan tubuh. Perlahan menjauh.

 

End

 

2024


Komentar

  1. Samar-samar aku m engingat hal ini, saat masih kecil aku lupa umur berapa, ada pesta yang mewah di sebuah rumah. Pesta itu termasuk jarang, hanya orang yang benar-benar kaya yang bisa mengadakannya. Ada juga semacam musik (bukan orgen, ya) yang suaranya menggelegar dan penyanyinya pria berambut panjang, biduanitanya yang dandan menor dan berbaju blink blink. Nah teman-temanku antusias akan melihat pesta ini. Tapi aku tidak dibolehin. Ibuku punya anak bayi, bapak manalah mau ngajak aku. Sementara karena masih sangat kecil aku pasti tidak dibolehin pergi dengan teman-temanku yang lebih gede. Karena aku terus merengek, ibu bosan mendengarnya mungkin dia mengeluarkan baju baru untukku, aku memakainya dengan senang hati. Ibu menyuruh menunggu, katanya dia akan menidurkan adikku dulu baru kami pergi. Tetapi yang aku ingat kemudian, aku juga tertidur menunggu Ibu. Rasanya sejak itu aku tak pernah lagi merengek-rengek ingin melihat pesta begituan. Rasanya dibohongin Ibu itu membuatku belajar, hal yang tidak boleh ya tidak boleh. Saat mengingat hal ini saat dewasa aku merasa sedih. Kami dulu sangat miskin. Ibuku introvert parah. Pesta begituan juga tidak ada asyiknya, karena sangat ramai kami pasti juga tidak akan bisa melihat orang yang menyanyi. Ibu tak punya uang kalau-kalau aku ingin jajan dan sebagainya. Begitulah.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)