Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)
Pertemuan
Pada Sore yang Tidak Biasa
Oleh:
Dimarifa Dy
Tak
ada yang aku pikirkan selain Arsenna. Bahkan ketika aku tidak berminat lagi
pada kehidupan, bahkan jika aku tidak mau memikirkan apa-apa, hidup seperti apa
yang harus aku jalani, aku akan melakukan hanya untuk hidup saja. Begitu saja.
“Apa
kau pernah merasakan sebuah pengalaman yang mengesankan?”
Aku
akan menjawabnya: “Ya. Aku punya. Sore pada waktu yang itu.” Dengan senyum
malu-malu, “waktu pertama kali aku bertemu dengannya.”
Kau
akan tersenyum juga. Aku ikut tersenyum. Itu hal lumrah, bukan? Semua orang
pasti pernah mengalaminya hal pertama yang mengesankan, setidaknya sekali.
Entah pada saat kau lulus tes PTN favorid pilihan pertama, ketika kau
dinyatakan lulus pada wawancara kerja pada interview pertama, atau pun ketika
kau mengunjungi sebuah tempat yang selama ini hanya ada dalam anganmu.
“Kalau
begitu, pengalaman yang ingin kau hilangkan?”
“Sore
waktu itu juga,” jawabku lagi.
Kenapa?
Kau mungkin menaikkan alismu, keningmu sedikit mengerut. Memandangku beberapa
lama. Aku akan diam saja, atau menggeleng. Lalu memikirkan jawaban itu
berhari-hari. Memilih menghindarimu karena tak bisa menjawabnya. Aku akan lega
jika kau tak lagi membahasnya.
Umurku
baru lima belas. Aku bersepeda sepanjang jalan sambil menangis karena satu hal.
Mencari tempat yang sepi untuk mati, pikiran remaja putus asa. Begitu
dikacaukan, begitu masif, begitu merencanakan, bagaimana mati dengan baik.
Jalan
yang tidak lengang sedikit sepi untuk sebuah jalan raya. Aku memandang
pepohonan berhembus, menimbulkan gerakan gemerisik. Ada bangku-bangku panjang
tua disediakan pada pinggir-pinggir jalan itu.
Aku membawa
beberapa komik kesukaanku, bermaksud membacanya di suatu tempat. Itu kebiasaan,
aku memang selalu membawanya ke mana-mana. Bahkan saat mau mati aku masih
memikirkan membaca buku, hahah, hebat kan. Sayang pilihan bacaanku sedikit
salah, aku semakin ingin mati saat membuka chapter baru dari komik itu. Melipat
ujung halaman, sedikit tidak nyaman. Terlalu sering membaca trik pembunuhan dan
motif pelaku, aku jadi suka berpikir begini: kematian, mati, akhir, bukan
sesuatu yang luar biasa.
Aku seringkali
berpikir sama seperti itu. Meninggal itu adalah akhir. Tidak ada kehidupan
setelah itu. Tidak ada siksa kubur atau neraka. Mungkin aku akan bereinkarnasi.
Oh, orang bunuh diri tidak akan bereinkarnasi. Baguslah. Aku juga tidak mau
menjalani hidup yang sengsara karena telah bunuh diri.
Langit
terlihat sedikit gelap, beberapa truk besar dengan muatan penuh lewat di
depanku.
Aku
berhitung, jika berdiri di sana, tidak sampai tujuh detik tubuhku yang kecil ini
pasti akan langsung hancur. Aku mungkin tidak sempat merasa sakit. Bapak juga
tak perlu repot memberinya kain kafan. Barangkali mereka juga enggan
mengindetifikasi mayatku. Aku akan meninggal sebagai mayat tak dikenal.
Aku
melangkah.
“Mencari
kerang yang tidak menyenangkan!”
Langkahku
berhenti. Menoleh dengan cepat. Seorang remaja laki-laki dengan sepeda gunung
di dekatnya. Cowok itu meraih komik yang tadi aku letakkan. Dia membalik
halaman dan membacanya. Aku tertegun. (Mencari kerang yang tidak menyenangkan
adalah chapter baru dari komik yang sedang kubaca)
“Detektif
Conan?” Dia berkata lagi. Sekarang melihatku. Kami
berpandangan. “Ada tokoh yang mirip Arsenne Lupin kan? Penulisnya sepertinya
memang mengadopsi karakter tersebut untuk jadi salah satu tokohnya. Kaito Kid
...” Dia terus bicara.
Aku
terus menatapnya. Sekarang sadar ada yang ganjil. Kenapa dia bisa di sana.
Kapan dia sampai di sana.
Situasi
ini tidak biasa, kan? Itu pasti suasana yang aneh kan?
“Dia
tokoh favoridku.”
“Kalau
kau suka siapa?”
Seolah
kami dalam suasana yang wajar. Aku masih tidak tahu bagaimana meresposnnya. Apa
yang harus kukatakan.
Kau
mengganggu! Jangan sok kenal! Kau aneh!
Harusnya
aku bisa meneriakkan makian itu.
Anak
itu terus tersenyum ramah. Matanya berbinar dan terlihat pintar. Dia terlihat
terlalu ramah untuk ditujukan pada orang asing yang sedari tadi memandangnya
seolah dia adalah makhluk alien yang datang dari planet yang tak dikenal.
“Saran
aja sih, lebih baik pakai pembatas kertas, supaya bukunya tak cepat rusak.”
“Maaf!”
Aku mengambil komik-komik itu sekaligus yang berada di tangannya. Memasukkannya
tergesa dalam tas sandangku. Sekarang kami bertatapan dalam jarak dekat.
“Oh
kukira, tadinya tak bisa bicara.” Masih dengan tersenyum. “Kau
habis menangis?” Dia menunjuk mataku yang masih bengkak. Wajahku sekarang
pasti memerah. Aku segera memalingkan muka. Malu.
“Hai,
ijasahmu jatuh!” teriaknya lagi. Aku menoleh, dengan cepat
mengambil kertas itu dari tangannya. “Kau di terima di sana itu juga, ya.
Kita akan bertemu.” Aku segera mengambil ijasahku dan berbalik dengan
terburu-buru.
“Namaku,
Arsenna!” teriaknya. Aku terus saja pergi.
Hujan
turun dengan deras beberapa saat aku meninggalkan tempat itu. Saat berteduh dan
melihat hujan yang jatuh, aku merasa suasananya berbeda. Cemerlang dan
bersinar. Seolah-olah setelah ini ada banyak yang harus kulakukan. Semua
pikiran buruk beberapa jam lalu telah digantikan dengan rencana-rencana.
Arsenna.
Tanpa sadar aku menggumankan namanya dengan tersenyum.
Dia
menyebutkan namanya. Dia bahkan berkata dengan bangga, kami akan bertemu lagi.
Memantik seluruh sarafku padam perasaan bahagia yang belum pernah kurasakan.
Menjadi aliran darah mengalir lebih deras. Aku bahkan bisa mendengar suara
jantungku memompanya. Perasaan asing. Tidak kukenal. Aku ingin bertemu dia
lagi. Aku ingin melihatnya lagi.
“Aku pikir, karena pemahaman kalau
bunuh diri itu dosa maka aku tidak jadi bunuh diri.” Aku tersenyum, “mungkin
satu-satunya hal yang tepat dalam hidupku adalah membaca buku Osamu Dazai tidak
pada usia yang itu. Kalau aku membacanya sebelum melewati usia krusial itu, aku
tidak begitu berpikir panjang untuk meninggal dengan cara demikian.”
“Aku rasa tidak juga, sih.” Kau
berkata.
“Meski hidupmu menyedihkan, lalu
akhirnya tak jadi bunuh diri, alasan yang benar adalah, kau ingin bertemu lagi dengannya.
Benar kan?”
Aku
tersenyum, tak menjawab. Yang benar, aku tak mau menjawabnya.
Bertahun-tahun
kemudian jika kau bertanya lagi hal serupa, mungkin aku akan mengatakan
jawabanku. Sebuah kisah cinta seperti itu memang lebih baik tidak memiliki
akhir.
Kisah
cinta yang seolah heroik dan happily ever after itu akan membuat
ceritanya tidak menarik dan klise.
Kau
tersenyum tipis. Menyeruput tehmu dengan tenang lalu bertanya.
“Jadi,
bagaimana caranya kau meninggal?”
End
2024-2025
.jpg)
Komentar
Posting Komentar