Sunyi Daun-Daun Para (Juara 1 Lomba FLP Sumsel 2024)

 




Sunyi Dalam Daun-Daun Para

Oleh : Dimarifa Dy

 “Kay.”

Angin berkesiuran, menerpa kita, kau bersandar padaku, begitu dekat.

“Kau lihat anak-anak yang berlarian itu?”

“...”

“Bahagia, ya?”

“Waktu kecil. Aku juga begitu.”

“Kau tahu?” Aku tersenyum.”Cita-citaku dulu ingin jadi balerina. Kau terkejut kan?

Matamu membulat, pupilmu membesar. Kau pasti terkejut.”

Aku tertawa merdu.

“Percaya tidak. Aku dulu kurus, gesit dan lincah. Teman-teman SD-ku senang sekali saat pertandingan estafet, aku jadi tim mereka. Kami pasti juara. Kaki panjangku. Sangat berguna pada saat-saat begitu.”

“Aku senang.” Aku melirik sekilas.

Kau juga menarik bibir, tersenyum.

“Mereka juga suka, aku jadi tim mereka saat permainan bola kasti.”

“Mereka turut bersorak-sorak jika tim lawan, nge-cap bola itu di belakangku.”

“Lucunya, cap itu bertanda kalah, tetapi mereka malah senang. Aneh kan?”

Kau menggeleng pelan. Ah kau juga lugu sekali.

“Memang tak begitu aneh, sih. Karena aku siswi yang kuat. Berapa kali bola kasti menembakku dengan keras, betapapun kerasnya, aku tidak pingsan. Tidak sakit, tidak roboh. Aku juga tidak marah. Justru senang sekali mereka tertawa karena aku.”

Kau membesarkan matamu lagi, seperti bertanya-tanya, bagaimana aku bisa sekuat itu. Aku tertawa panjang.

“Mana bisa aku sakit, Kay. Kalau aku sakit karena hal begitu, mereka tak punya permainan yang menyenangkan lagi.” Aku menghentikan tawaku, merubah tatapan mataku. Agak sedih.

“Kau harus terlihat lebih dari orang lain untuk dapat dilihat. Bukan begitu?”

Itu pertanyaan retorika, kau tak perlu menjawabnya.

Jika kesal, mereka akan menyeret-nyeretku ke jalan sampai lututku terluka. Mendorongku beramai-ramai dalam selokan.

“Woi, Togog[1]. Kenapa sih kau sekolah. Kau itu bodoh, Togog. Jadi percuma sekolah.” Togog lebih mirip ejekan untuk orang bodoh yang sangat kasar. Padahal, aku hanya tak pintar dalam belajar berhitung.

Guru-guru juga suka menyebutku Togog. Tinggiku melebihi rata-rata dari mereka. Kulitku kering dan hitam. Badanku setengah bau. Itu alasan mereka memberiku julukan itu. Aku hanya tak pintar dalam pelajaran matematika, Kay.

Sugesti bodoh yang terus menerus ditanamkan dalam alam bawah sadarku, akhirnya benar-benar menjadikan aku bodoh. Seperti peran murid idiot dalam banyak drama bullyan. Jelek, kurus, tinggi, hitam, bodoh. Itu adalah image terburuk dalam diri seorang murid perempuan.

Dengan image seburuk itu, mestinya aku tak boleh punya banyak mimpi. “Aku benar-benar tak tahu diri, Kay.” Aku tertawa lagi.

Benar-benar tak tahu diri, bagaimana seorang murid perempuan yang dikenal dengan panggilan Togog, jelek, rangking belakang menyukai murid laki-laki sepertimu.

Pada hari yang nahas itu ...

“Dengar! Ini pengumuman sangat penting.” Ardi berkata sambil menahan tawa, sepertinya dia geli sekali. Berkali-kali kami melihat, dia tak bisa menahan hasrat tertawanya, tertawa yang ganjil, mirip orang kerasukan. Membuat anak-anak di kelas keheranan.

“Suwer. Ini penting banget. Kalian yang mendengar ini pasti akan sangat ter-ha-ru.” Sikapnya terlihat aneh sekali. Dia sebut terharu, tapi terlihat oleh kami seperti orang yang mau mati ketawa.

Ardi mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebuah buku warna kuning gambar kucing yang manis lagi duduk.

Aku pucat, Kay. Itu diary-ku. Bagaimana mungkin bisa ada di tangan Ardi. Panik, aku mengaduk-aduk tas. Gerakanku berhenti saat Ardi melantunkan kalimat dengan nada puisi.

“Kau adalah malam yang paling terang, bintang timur ketika Aurora membuka gerbang pagi. Kau adalah bulan, oh Kayano ... huahaha.”

Itu puisiku.

Kelas riuh, langit-langit kelas seakan mau runtuh. Aku terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Otakku benar-benar tak bisa berfikir. Semua organ tubuhku mematikan fungsinya, sehingga aku hanya menjadi patung yang menggelikan saat itu!

Diary siapa sih itu?” Siswa-siswa yang penasaran merangsek ke depan. Berusaha merebut buku itu. Ardi terus membaca kalimat-kalimat bernada puisi tersebut. Dia tegak di meja guru dan tangannya bergerak-gerak sambil berdeklamasi. Kelas makin riuh. Sungguh itu adalah tontonan paling menggenaskan. Tetapi mereka tertawa, seakan menertawakan anak manusia itu sangat menyenangkan.

Badanku gemetaran, dan aku menundukkan wajah. Sambil berharap bumi terbelah, atau tiba-tiba pingsan.

Hal yang mustahil.

Aku adalah murid perempuan yang kuat, mana mungkin bisa pingsan.

“Tenang, tenang!” Ardi berseru, “kalian pasti tak menyangka, yang punya diary ini adalah murid paling cantik, paling wangi, seantero sekolah kita. Wah Rangga, ckck, aku iri. Bener-bener iri.” Ardi terus berkata-kata sarkas.

“Kalian pasti kaget. Luar biasa. Amazing ...”

Banyak waktu terlewat setelah itu, aku sering memikirkan, membunuh Ardi dengan berbagai cara. Pertama kalinya dalam hidupku, aku tak menerima fisik dan kekuranganku. Pertama kalinya aku membenci Tuhan dengan kapasitas yang tak pernah aku bayangkan.

Teman lain, Rudi, yang tak sabar mengetahui pemilik diary langsung merebutnya, dan membaca namaku keras-keras.

“Huahahaha.” Suara tertawa membahana. Mereka membaca bergantian sambil tertawa. Seolah semua orang di kelas itu dirasuki oleh setan tertawa.

Ardi bergulingan di meja guru. Jika saja dia mati karena tertawa, mungkin gosip dan bullyan itu tidak mengubah duniaku saat itu. Para siswa di sekolah itu pasti lebih suka membicarakan hal menyeramkan daripada bullyan pada siswi invisible yang hanya bisa jadi bahan tertawaan. Perempuan buruk rupa yang berani menyukai sang pangeran tampan.

“Eh, baru tahu pengagummu pinter buat puisi, Ngga.”

Yang aku tahu, sejak itu Kau sangat membenci puisi. Aku adalah makhluk nista yang berani mengagumi manusia dari langit. Makhluk bawah tanah yang paling terlarang mendekati digdayanya seorang Rangga. Itik buruk rupa yang tak tahu diri.

**

Hari semakin sore.

Tenang, waktu kita masih panjang. Senja pasti suka melihat kita seperti ini, seperti dua orang berkencan yang sedang mengaguminya. Jadi dia bergerak lambat.

Sesekali angin meniup, daun-daun batang para (getah karet) jatuh berguguran.

 “Kau tahu tokoh Mari-chan? Gadis yang tidak terlalu pintar, menjelma begitu mengagumkan dengan baletnya. Cerita yang membuatku bermimpi dan bertahan pada dunia yang busuk ini. Cerita yang konyol. Gadis ceroboh dan tidak pintar tapi bisa jadi balerina terkenal.”

“Cerita omong kosong. Mana ada cerita seperti itu di dunia nyata ini. Buruk rupa, bodoh, idiot. Hanyalah sampah. Tidak perlu hidup!”

“Bagaimana Tuhan bisa begitu tega menciptakan manusia begitu. Bagaimana Tuhan bisa meniupkan ruh pada bayi kecil itu ... hanya untuk diperlakukan sebagai sampah dan lelucon. Menciptakan kehidupan neraka pada manusia tak berdaya seperti itu?”

Kau terdiam, kau pasti tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Kau mau bilang apa. Takdir, ikhtiar, doa ... tidak ada ujian dibebankan luar batas kemampuan manusia. Omong kosong!

Matahari kuning hampir redup. Sebentar lagi mungkin akan jadi gelap. Anak-anak yang tadi bermain bola juga perlahan meninggalkan lapangan rumput itu. Aku tersenyum.

 “Oh, sepertinya ada anak perempuan yang masih tinggal, Kay.” Aku berkata sambil menunjuk ke satu arah.

“Dia melihat kita,” bisikku.

“...”

“Dia kemari.” Aku terus berbisik.

“Kay.” Suaraku cekat. “Dia menyeringai. Membawa clurit[2] yang biasa ia pakai untuk motong[3].”

Kau tak menjawab.

“Dia menatapmu tajam, Kay ...”

Aku tercekat. Merasa takut sesaat. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Suara azan dari jauh sayup terdengar dari sini. Waktu Maghrib biasanya memang lebih lengang dari waktu lainnya.

“Gadis kecil itu menatapmu yang bersimbah darah penuh kemenangan. Lalu perlahan membersihkan darah segar dari cluritnya.” Aku berguman seperti deklamasi.

“Dia menatap dingin tubuhmu yang tak henti-henti menguncur darah dari jantungmu.”

“Kay!”

“Sayang.”

Ah iya, kau kan hanya perlu mendengar. Kau tak perlu menjawab. “Saat SD, teman-teman mendorongku ke selokan tanpa perasaan. Harusnya pada saat itu aku melawan. Aku kuat. Lebih kuat dari mereka. Tetapi aku tak melakukannya, karena takut tak disukai lagi, aku tak melakukan itu.”

“Begitulah hal itu terus terjadi. Sampai kau dan teman-temanmu membuatku hancur tanpa sisa pada waktu itu ... KAYANO RANGGA!” Aku menyeringai. Menatapmu penuh kepuasan. Darah segar dari dadamu telah mengering. Aku bangun dari dudukku, tubuhmu yang bersender dari tadi menggelosoh jatuh.

“Kau tidak berdaya sekarang. Kau membenciku. Menjijikkan katamu. Sekarang tubuh dan wajah rupawanmu lebih menjijikan.” Aku tertawa panjang. “Sebentar lagi tubuhmu akan dimakan belatung. Kekasihmu yang tengah menunggumu itu, tidak akan tahu. Tidak ada yang tahu kalau kau telah dimakan cacing-cacing tanah. Seperti mayat-mayat mereka yang juga telah kukubur sebelah lapangan pinggiran kebun para ini.”

Aku menyeringai.

“Lihat kau punya banyak teman kan? Jadi, kau tidak akan kesepian.”

--End--

 

Lubuklinggau, 2024



[1] Tidak ada arti secara harfiah, Togog adalah sebuan untuk orang tinggi besar tapi bodoh. Sebutan kasar.

[2]. Seperti arit yang biasa digunakan petani getah karet untuk menakik getah.

[3]. Menakik getah karet.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)