Review : Ferris Wheel at Night - Minato Kanae
Ferris Wheel at Night - Minato Kanae
Bukit Hibari, komplek perumahan elite yang tampak mewah dan anggun dari luar.
Tetapi malam itu terjadi pembunuhan pada keluarga dokter. Dan istrinya yang cantik menjadi tersangka.
Seperti biasa Kanae Sensei menceritakan cerita ini melalui POV tokoh yang berbeda-beda.
Adalah
keluarga Endo, punya anak perempuan SMP, Ayaka, yang seringkali
tantrum. Saat itu terjadi maka teriakan histerisnya terdengar sepenjuru
tetangga mereka. Endo Mayu, ibu Ayaka punya impian sebuah rumah, merasa sangat
senang bisa membangun di perumahan elite, tapi itu harus dibayar dengan
tingkah laku Ayaka yang berubah suka histeris. Ayaka melakukannya sebagai perlindungan pada
dirinya yang mengalami syndrom tanah miring. Ayaka benci sekali punya rumah
di Bukit Hibari, harus naik tanjakan. Dan teman-temannya turut mengejek, menyebut rumahnya paling kecil di Bukit
Hibari.
Lalu keluarga
Satoko, ibu-ibu yang telah tua. Kaya raya dan suka kerajinan tangan.
Agak angkuh dan merasa lebih tinggi daripada orang lain meski sebenarnya dia juga
cukup baik. Ibu Satoko hanya seperti kurang suka orang yang 'memaksa' tinggal
di Bukit Hibari yang dicintainya itu.
Ketiga, keluarga Takahashi, keluarga yang terlibat dalam pembunuhan. Keluarga
Takahashi menceritakan konflik batin tiga anak yang sebenarnya pintar
dan menawan. Justru para tetangga heran kenapa keluarga sempurna seperti itu
malah menjadi TKP pembunuhan.
Pembunuhan.
Terlalu bombastis. Tidak ada pembelaan
atau pertahanan diri dari istri cantik dan anggun itu. Kenapa dia membunuh suaminya! Semua orang ingin berfikir, perbuatannya dipicu
karena membela anaknya yang saat itu masih SMP, Shinji. Anak yang juga sama menawannya dan mirip bintang idola.
Ya, begitu, demi melindungi anak-anak yang
menjadi korban sekaligus juga keluarga pelaku. Juga untuk melindungi Bukit Hibari yang
terkenal elite dan mewah dari rumor yang buruk!
Syndrom
tanah miring, kata Ayaka. Gadis kecil yang suka tantrum ini adalah
tokoh paling mengesalkan dalam cerita ini. Dibalik cacian dan sikap
sinisnya, rupanya dia menyukai Shinji anak bungsu keluarga Takahashi. Gadis remaja itu menyadari orang-orang yang tinggal di sana mengalami konflik
bathin yang sama seperti dirinya, yang suatu saat bisa meledak!
Seperti ibunya yang miskin tapi punya impian rumah di komplek
mewah itu, seperti dirinya yang hanya rata-rata dan tak bisa mengimbangi kehidupan berkelas, menyimpan cemburu pada keluarga depan rumahnya. Begitu juga dengan juga Ibu Shinji yang
menjadi tersangka dalam kisah ini.
Cerita ini
bagus. Tidak ada misteri. Yang misteri adalah motif tersangka. Itu saja.
Pesan moralnya, mungkin kita jangan terlalu memaksa untuk
menjadi atau terlihat sama seperti yang lain. Karena saat tak sanggup
menahannya, hal itu akan malapetaka.
Aku jadi tahu, kenapa yang diceritakan pertama kali adalah keluarga Endo, Ayaka gadis mengesalkan itu malah yang pertama kali menemukan motif si ibu. Terlalu rendah diri, terlalu menyematkan standar dalam diri. Mungkin ini juga jawaban kenapa orang Jepang dan Korea tingkat bunuh dirinya sangat tinggi. Negara maju yang melaju dengan kencang dan tidak semua warga negara tersebut sanggup menyamakan langkah kaki mereka dengan yang lain. Garis start semua orang berbeda, begitu juga dengan garis finish masing-masing orang.
Pemikiran masyarakat banyak juga perlu dibenahi agar mereka juga berhenti memaksa standar mereka pada orang lain, kita tidak pernah tahu kalimat mana atau pertanyaan apa bisa memicu orang untuk nekad, depresi, membunuh atau bahkan bunuh diri.
Seperti biasa, setiap menyelesaikan tulisan Sensei Kanae, hatiku juga terasa hangat, over all aku suka cerita ini meski tidak sebagaus Penance dan Cofession. Satu lagi, aku hanya kurang suka penulis yang menulis berulang-ulang rasa rendah diri dalam keluarga Endo. Jadi terkesan berlebihan. Akhirnya daripada penasaran aku lebih merasa sedih. Untung sih ceritanya berakhir happy end.
Oh ya, aku
juga suka pada tiga bersaudara, kakak tertua adalah kakak tiri, tapi
mereka benar-benar menunjukkan arti bersaudara, tidak saling
menyalahkan, duduk bertiga untuk saling bicara dan menyelesaikan masalah. Meski mereka jadi anak korban yang harus berduka sekaligus keluarga pelaku yang dicemooh orang! Aku rasa jika semua anak bisa berlaku begini, pasti generasi selanjutnya juga akan menjadi baik-baik saja.
By: Dimarifa Dy

Komentar
Posting Komentar