Cerpen Cappucino dan Dua Bungkus Gula


 

“Ren,” kata Cintya suatu hari. “Barry menyukaimu.” Aku terpaku.

“Ah becanda kamu, masak sih, bukannya kamu yang ...”

“Kami cuma sahabat, sama halnya aku dan kamu.”

Terdengar suara napas menghela.

“Aku seperti dikhianati.” Cintya tersenyum sinis. “Kenapa kau tak pernah cerita tentang kalian?” tanyanya dengan suara mendesis, seperti menahan geram.

“Kenapa Ren? Senang melihatku terluka. Senang melihatku hancur? Lucu sekali. Selama ini aku bercerita tentang Barry membabi buta padamu tanpa tahu kebenaran ini.”

            Aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu. Aku juga tak tahu kenapa.

Cintya, sahabat terbaikku. Selamanya begitu, kukira. Dia termasuk gadis yang beruntung. Bergelimang harta sejak dari dalam kandungan. Cantik, anggun, ramah. Ayahnya seorang pejabat tinggi, ibunya juga seorang wanita yang aktif berorganisasi. Keluarga mereka orang-orang berpengaruh di kota kami. Bahkan pekerjaan bagus yang kujalani sekarang karena koneksi dan bantuan Cintya.

Namun, sepertinya persahabatan itu sudah tak sama lagi.

Barry, laki-laki yang masuk pada dunia kami, lelaki yang tadinya dikenalkan Cintya padaku sebagai orang yang dekat dengannya. Lelaki yang sangat disukainya.

***

Waktu itu, aku mengira cerita gadis biasa dan pangeran hanya dongeng. Cerita itu terjadi dalam hidupku. Aku bertemu dengannya.

 “Hujan begini, paling enak minum kopi.” Aku berguman sambil lalu. Saat terkurung hujan setelah berbelanja di sebuah supermarket. Tak mengira ada orang yang mendengar dan menanggapinya.

“Kalau begitu, apakah itu merupakan undangan untukku minum kopi bersamamu?”

“A-Apa?” Aku tergeragap. Dia, lelaki itu memandangku dengan senyum, entah kenapa aku merasa gugup, seolah-olah ketahuan melakukan sesuatu yang salah.

“Haha, maaf aku merasa bicara sendirian, kupikir tak ada yang mendengar.” Aku menepis hawa panas menjalar mukaku.

“Tapi aku sudah mendengarnya.” Dia tersenyum lagi.

“Baiklah, jika itu bukan undanganmu. Bagaimana kalau aku yang mengundangmu?”

Aku tak mudah ge-er, sungguh, tetapi waktu itu, aku sungguh tak bisa mengelak wajahku yang bersemu merah.

“Aku Barry.” Dia mengulurkan tangannya.

“Renita.” Aku menyambutnya.

“Pulang kemana?”

Aku menyebut nama sebuah daerah.

“Mau bertukar nomer?” dia bertanya meminta persetujuan sambil memegang ponselnya.

Aku bimbang. Lama. Dia menunggu. Akhirnya aku menyebutkan sebaris nomor ponselku. Hujan tinggal gerimis, dia mengeratkan jaket tebalnya, dan memasang helm.

“Okey, Renita, aku duluan ya.”

Aku hanya mengangguk.

“Sampai jumpa.”

***

Keluargaku termasuk penikmat minuman kopi. Minuman kegemaran ayahku. Sehari dia bisa minum belasan gelas. Mungkin sejak itu aku juga jadi menyenangi kopi. Entah tahun kapan wangi kafein yang menyihirku, membuat salah satu saraf di kepalaku pusing. Ironisnya. Aku suka tak tahan dengan aromanya.

Barry mengenalkanku dengan kopi jenis itu. Sepertiga kopi, sepertiga steamed, sepertiga susu.

Aku menambahkan dua bungkus kecil gula ke dalam cappucino, Barry tertawa.

“Jadi tetap ditambah dengan gula?”

“Aku suka sesuatu yang manis.”

“Jangan terlalu manis. Nanti aku tak kuat menanggungnya.” Aku mengernyitkan kening.

“Karena kau sudah terlalu manis.” Barry tertawa lagi. Aku ikut terawa. Mukaku pasti memerah. Senang dan malu.

Begitulah kami menghabiskan waktu berlama-lama di kafe favorid Barry. Sejenak aku mengira, kami mungkin telah menjadi dua orang yang tersihir. Dua orang yang tengah berproses. Waktu-waktu panjang yang kami habiskan rasanya cukup sebagai saling mengenal dan meyakini. Begitu sempurna dan lurus, tidak serumit cerita-cerita cinta gadis dan pangeran yang biasanya. Setidaknya sebelum aku tahu dia juga kenal dekat dengan Cintya, dan keluarga mereka saling menjodohkan.

Ya, sampai pada saat aku tahu, bahwa lelaki yang sering diceritakan Cintya dengan penuh binar adalah Barry yang juga aku kenal.

***

“Aku cinta Barry, Ren,” kata Cintya lain kali. Menatapku lurus-lurus. Apa dayaku, mencegah perasaannya. Karena Barry memilihku.

“Aku tetap akan mengenangmu sebagai sahabat terbaik.” Dia mengusirku.

“Jadi, biarkan aku yang menang. Bukannya, aku selalu ada di sisimu saat kau pun bukan siapa-siapa.” Aku diam saja.

“Pergilah, Ren.” Ia tak memohon, ia memerintah.

Aku mundur. Membebaskan perasaanku, perasaan Cintya juga perasaan Barry. Bukan karena takut, tapi lebih pada melakukan balas budi atas semua kebaikannya selama ini.

Kesalahan pertama yang aku buat.

Aku lalu menghilang dari kehidupan mereka berdua. Keluar dari pekerjaan, menghapus nomor telepon dan memblokir Barry dari semua akun sosial mediaku.

Beberapa minggu setelah itu aku mendengar mereka bertunangan dari salah seorang teman kami.

***

            Mencari pekerjaan baru tanpa koneksi adalah hal mustahil, meski CV-ku memuat pengalaman kerja dari perusahaan bagus tapi itu tak menjamin. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku mencoba membuka toko bunga dan berjualan online.

Waktu-waktu yang kurasakan sangat sepi dan kosong, seperti ada yang hilang. Rasanya aneh sekali. Aku terbiasa berkerja, kehadiran Cintya, teman-temannya yang juga telah menjadi temanku. Tapi sekarang, namanya menjadi yang paling kuhindari. Meskipun sering merindukannya, aku masih belum bisa berdamai dengan rasa sakit. Belum bisa ikhlas begitu saja.

“Kenapa tak menjawab teleponku waktu itu?” Barry menemuiku. Yang seharusnya menjadi tempat pertemuanku dengan calon pembeli bunga dari jualan online-ku.

“Telepon?”

“Sore hari, sebelum kau menghilang.”

Aku ingat, waktu itu Cintya yang menerima telepon itu. Menutupnya tanpa memberiku kesempatan menjawab panggilan itu.

“Aku ingin memastikan sendiri, kau yang menolakku.”

“Maaf, Bar. Kurasa, tak ada yang perlu kukatakan.” Aku segera bersiap untuk segera pergi dari situ.

“Renita. Jangan menjadi pengecut.”

“Aku akan di cap pelakor, Bar. Meski kalian belum menikah, sembilan puluh persen, kau sudah punya orang, Bar.”

“Bukan itu intinya,” sergahnya cepat “benar kau tak menyukaiku? Sedikitpun?”

“Bukan itu juga intinnya sekarang. Kita salah ...”

“Aku akan memutuskan pertunangan dengan Cintya.”

Ini salah, benar kan. Barry tunangan orang. Bukan orang lain. Sahabatku. Akan tetapi, ini juga adalah cinta. Ia tak butuh logika. Mana tahu kemudian Barry masih tak bisa melupakanku. Mana tahu kemudian ia menyadari Cintya tak bisa melengkapi ruang kosong hatinya.

“Aku akan menikahimu.” janji Barry. Airmataku berlinangan. Bagaimana aku menolak hal itu. Aku juga sangat mencintai Barry, memimpikan dia di semua mimpi dan tidurku. Menginginkan dia dalam setiap kehidupanku.

Kata orang menemukan orang yang mencintai kita dengan begitu tulus adalah keberuntungan, dan saling mencintai, itu adalah keajaiban. Jadi kenapa juga aku harus mengalah lagi sekali ini.

Perlahan aku menganggukkan kepala. Bibir Barry tersenyum. Dia menatapku dengan mata elangnya yang sering kurindukan.

Kesalahan kedua.

Aku tersenyum pahit. Sama saat Cintya datang padaku, mengusirku tanpa perasaan. Ini lebih dari itu. Ia tak perlu datang lagi. Ia cukup menelanjangiku di berbagai media sosial. Bisa dibayangkan reaksi teman-teman, terlebih keluarganya sangat berpengaruh. Cintya mengunduh wajahku dan semua bukti foto mesraku dengan Barry ke sosial media.

[Tidak tahu malu. Menjijikkan!]

Mimpi burukku datang, rasanya seperti seluruh kota mengecamku.

[Wanita rendah, murahan. Jangan-jangan tak perawan lagi.]

Komentar-komentar jahat itu bertebaran. Maruah sebagai perempuan baik-baik dan penuh harga diri hancur berantakan oleh sederetan postingan dan komentar-komentar itu.

[Sahabat pengkhianat.]

[Heran. Apa sih yang dilihat Barry darinya?]

Aku lebih sendirian. Tak satu pun dari mereka mau membenarkanku. Cinta yang kujadikan tameng justru jadi bumerang. Siapa percaya kalau sebenarnya Cintya yang merebut kekasihku, membiarkan kami menderita untuk kebahagiaan dia! Siapa yang percaya cinta? Ini bukan zaman Romeo Juliet. Mereka bahkan lebih percaya aku menggunakan guna-guna.

Hanya Barry terus menguatkan untuk terus bisa bertahan. Ini perang, dan aku akan memenangkannya. Sekarang atau nanti, akan kuperlihatkan pada Cintya, bahwa dia yang salah dan harus mengalah.

***

“Ma, ini Renita.”

            Perempuan yang masih cantik dalam usia setengah bayanya itu memandangku seolah-olah ingin menelanku.

            ‘Siapa?’ Matanya bertanya, tapi tak ada suara, Aku sudah merasa tak enak.

            “Calon istri Barry Ma,” kata Barry.

            “Oh.” Sekarang wajahnya penuh rasa tak suka.

“Barry mencintai Renita, Ma.” Barry terpaksa menghentikan kalimatnya. Perempuan baya itu masuk ke dalam tanpa kata. Barry melihatku serba salah, kemudian dia mencoba mengejar ibunya.

            “Dari pakaiannya saja, kelihatan dia orang miskin, Barry. Ah Mama lagi malas berdebat, bawa pergi sana, sebelum Mama mual melihatnya lebih lama.” Suara wanita itu terdengar jelas di telingaku.

            Satu hal yang Barry belum tahu, penghinaan terhadap status sosial adalah hal yang paling tak bisa aku tolerir. Tidak bisa dimaafkan. Tanpa berfikir panjang aku keluar dari rumah megah itu, setengah berlari.

***

Tentangnya adalah hujan. Sedih dan bahagia sekaligus. Rindu dan indah sekaligus. Sakit dan sepi sekaligus. Kau akan ingat lagi tentangnya yang suka bicara tentang hujan. Sepertinya bukan karena dia menyukai hujan, tapi karenamu. Kau mengingat tertawa kalian yang berderai. Kalian sungguh semringah dan terus bicara karena tidak takut ada menguping pembicaraan kalian.

Kau terlalu lama, membiarkannya, menjelajahi semua hal yang kau punya. Lalu dirampasnya, menjadikan itu kenangan indah, karena kemudian kau selalu tersenyum mengingatnya. Setiap hujan turun kau selalu merindunya. Membasahi dirimu dengan ribuan tetes hujan. Seolah dengan begitu, kau berharap dia muncul lagi dan mengajakmu bercerita tentang berbagai hal.

Kau menangis keras, kenapa kenangan itu tak ikut hanyut bersamanya ...

Aku menghentikan ketikkanku, menyesap cappucino yang tinggal setengah. Lalu memandang kaca buram karena uap dari air hujan. Ah, Melankolis.

Kafe itu hanya terisi beberapa orang. Keadaan mereka sama denganku. Sendirian. Kalau di kota kelahiranku dulu, minum di kafe sendirian itu sering terlihat aneh.

Aku kembali meraih gelasku lagi.

“Ah, bagaimana bisa aku lupa telah menghabiskannya tadi,” gumanku

“Cappucino, dengan dua bungkus gula.” Seseorang menyodorkan segelas cappucino yang masih mengepul asap. Aku mendongak dan terperangah. Orang yang selalu kujadikan objek saat menulis, kini telah berdiri di depanku.

Sejenak, rasanya dunia yang terjadi di depanku lebih aneh dari tahun-tahun terakhir ini. Aku tak pernah berharap, kami akan bertemu lagi dalam situasi apapun.

Orang yang selalu kurindukan ...

“Aku boleh duduk, Renita?” Dia tersenyum hangat.

Barry!

 

--End--

 

Lubuklinggau, 15 Oktober 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)