Review Penance
Penance
"Temukan pelakunya sebelum kasusnya kadaluwarsa, atau ganti rugi dengan cara yang bisa aku terima. Jika tidak aku akan membalas dendam pada Kalian."
Emily Chan, gadis kecil pindahan dari Tokyo ke kota kecil tidak dikenal dalam peta. Sebentar saja gadis kecil itu jadi pusat perhatian karena apapun yang ditampilkannya seperti berasal dari dunia lain. Cantik, kaya dan Pintar. Bukan mengetahui semua apa yang mereka tidak tahu, Emily juga mempunyai barang-barang yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Benar-benar dari dunia lain.
Lalu gadis kecil dari negeri dongeng itu terbunuh dengan cara menggenaskan. Pelakunya tidak tertangkap. Saksi matanya, adalah kami berempat.
Kalau kalian membaca Girls in the Darks. Cara berceritanya mirip ini, memakai sudut pandang masing-masing tokoh yang terlibat. Bedanya dalam Girls in the dark masing-masing tokoh menuduh pada orang lain. Di Penance, mereka menyalahkan diri sendiri.
Apa yang diharapkan pada kesaksian para anak usia 10 tahun, mereka dicekam ketakutan, cemas dan trauma. Teman yang satu jam lalu bermain bersama mereka tiba-tiba jadi mayat lalu mereka dicecar sebagai saksi kasus. Sampai mereka tidak bisa lagi bersama-sama karena takut membayangkan hari mengerikan itu. Menyembunyikan trauma dalam diri masing-masing, berusaha hidup normal tapi tidak bisa benar-benar begitu.
Saat mereka merasa telah lupa. Sang Ibu korban menagih kesaksian sebagai upaya terakhir. Dalam putus asa dan kemarahannya ibu yang tak berdaya itu melempar ancaman yang kemudian kian mengangakan luka dalam kedalaman jiwa mereka, tanpa sadar.
Sae Chan, yang bertugas menunggu jenasah mensugesti dirinya tidak mau dewasa sebagai hukuman dan juga ketakutan, dengan menjadi dewasa akan diperlakukan seperti Emily.
Maki, yang merasa bertindak paling pengecut saat menyadari jangan-jangan pembunuh merasa terancam dan masih bersama mereka ditempat yang sama, bertindak keras pada dirinya sendiri hingga menyebabkan insiden melukai rekan kerjanya dan menjadi fitnah pada dirinya.
Akiko menjadi paling tidak waras karena sebelumnya berharap berteman baik dengan Emily dan menyangka karena harapan itu menyebabkan Emily terbunuh.
Lalu Yuka, yang tanpa sadar sedikit benci, menjadi orang yang tak pernah terlihat dan haus perhatian, sayang perjuangannya dikhianati matanya yang rabun hingga dia tak bisa bersaksi wajah pelakunya.
Lucunya, aku dejavu seperti membaca Rikako, atau pola penulis Jepang sama. Yang paling tidak disangka adalah harusnga yang paling disangka. Tetapi aku lebih menerima plot Minato karena menurutku itu normal dan halus. Rikako keseringan "maksa" pada twist-nya. Meski cara bercerita mereka sama-sama keren.
Lalu motif paling umum, tentu saja asmara, setidaknya ada keterlibatan itu. Kalo motif bukan itu, aku akan memberi angka sempurna 10/10. Bukan tak menerima, sih.
Setiap menyelesaikan cerita yang sedih, aku selalu merasa ingin menulis ulang cerita itu, seperti spin off, dan membuatnya mereka semua bahagia dengan fantasy, mengubah waktu, menjadikannya seperti mimpi dan sebagainya.
By: Dimarifa Dy
.jpg)
Komentar
Posting Komentar