Cerpen Suatu Hari Yang Indah

Angin di bulan Desember, berhembus menggigilkan. Gerimis  yang terbawa angin bagai salju tipis yang melayang di tanah berdebu.

Sementara di daerah selatan Ibu Kota, banjir telah mencapai ketinggian tiga puluh cm. Terjadi antrian panjang sepanjang lima kilometer ....”

Aku mengalihkan perhatianku dari TV saat melihat sesosok tubuh kurus bergegas keluar dari pintu depan.

“Diara. Sedang apa, Di?” Sosok itu menadahkan tangannya pada air hujan yang turun dari atap. Matanya terpejam, seolah menikmati aroma hujan. Dia sedang menanti kabar. Berharap sosok yang ditunggunya akan datang dengan tiba-tiba.

“Kau tidak akan nekat kan, menembus hujan? Seperti dongeng dewi hujan yang mencair ketika menunggu kekasihnya saat hujan.” Aku menghampiri. Diara membuka matanya dan tertawa.

“Ah, Kak Ning. Aku bukan anak kecil.” Aku ikut tertawa.

“Atau Kak Ning mengira aku akan berlaku sama seperti sahabat Kak Ning, si Rani itu?” mendadak aku berhenti tertawa, mengingat nama yang disebut Diara.

***

Dua belas tahun lalu ...

“Rani! Hei, mau kemana?” Riana berlari mengejar adiknya yang tengah berlari menembus hujan. Beberapa saat dia mendesah kesal, tubuhnya basah, ia lupa dengan payung.

“Kau kenapa? Kau bikin orang panik, juga kenapa sih di sini, kayak orang gila saja.” Rani hanya menundukkan kepalanya, menatap tanah merah yang sebentar lagi akan berlumpur. Angin dingin kencang menerpa. Riana menggigil.

“Ra, ayo pulang. Ibu akan khawatir melihat kamu begini.”

“Pulang saja, Na,” lirih Rani

“Iya. Tapi sama kamu.” Suara Riana melembut. “Ayoh! Riana menggamit tangan Rani. Tapi tangannya ditepis dengan kasar. Usia yang lebih tua tak menjamin tenaganya lebih besar. Riana hampir jatuh.

“Ra. Riana makin menggigil, giginya gemeretakan. Emosinya ruah.

“Aku ingin menunggunya.”

“Menunggu siapa? Ferdi?” Riana memandang adiknya dengan membelalak. Meskipun tahu jawaban itu, mendengar langsung begitu tetap membuat darah dan emosinya naik berkali lipat! Gigil karena hujan membuat amarahnya lebih hebat lagi. Lelaki itu sudah tak ada kabarnya bertahun-tahun. Rani seperti orang depresi. Riana dan ibunya lebih depresi lagi melihat perubahan sikap Rani. Dan hari itu, adalah puncak dari kegilaannya.

“Ferdy, Ra. Ini sudah empat tahun Ra, harusnya kau sudah berhenti memikirkannya.”

“Aku hanya ingin menunggunya.”

“Kau gila!” Rani memandang. Tajam. Seperti sayatan benda yang amat tajam dan membuatnya berdarah. Ngilu dan menyedihkan.

Cuma cara ini yang bisa bikin aku puas, Na.”

Riana mundur, kehilangan kata-kata. Rani bukan termasuk jenis orang yang keras kepala. Orang-orang yang mengenalnya, pasti tahu Rani seperti apa. Ia logis, optimis, ceria, periang dan ramah. Tetapi waktu itu, dibanding batu karang laut manapun, kepala Rani-lah  juaranya.

“Ya, kau memang gila. Sakit jiwa. Bodohnya aku mau saja ikutan gila mengejar kamu begini.

‘Cinta itu Indah, Na. Begitu indah, saat kau telah memasuki dunia itu, kau merasa berada dalam negeri keajaiban. Dunia yang akan membuatmu memandang semesta ini dengan cara berbeda.’

“Ini cinta itu, Ra! cinta yang kau perkenalkan padaku dengan segala tetek bengek teorimu betapa manisnya dan indahnya. Yang akan menjadi suatu hari yang indah bernama pernikahan itu?”

‘Pada akhirnya kita akan tiba pada suatu hari yang indah, Na. Suatu hari yang bernama pernikahan. Kita adalah manusia yang diciptakan berpasangan, itu kodratnya. Sayang sekali jika kau terus menutup pintu itu. Tanpa memberi kesempatan siapapun masuk. Ayolah, Na. Kau harus lihat, kau harus merasakan ini.’

“Cinta! Hal yang tak pernah kupercayai seumur hidupku, kau perlahan membangunnya dengan semua caramu, perlahan kau bikin aku hidup normal, supaya juga bisa menikmati hidup, katamu. Sekarang kau menghancurkannya. Tanpa sisa!”

‘Aku tak percaya pada cinta, Ra. Penderitaan Ibu adalah sesuatu hal yang aku rasa, tak bisa kutanggung lagi.’

‘Aku juga membenci, Ayah, Na. Benci saat Ayah meninggalkan Ibu demi perempuan lain. Membuat kita hidup menderita. Tapi bukan berarti terus menerus menceburkan diri pada dunia yang dingin dan sepi. Bukan begitu, Na.’

“Saat kau bilang ia bisa seperti cendawan yang tumbuh di musim hujan. Seperti jutaan bintang dalam musim kemarau, gemerlap dan megah. Untuk mati-matian mendebatnya denganku, kau tahu, sekarang aku bahkan tak percaya langit itu ada.”

‘Cinta itu seperti seperti hujan. Kita adalah bumi. Seperti cendawan yang tumbuh semarak pada musimnya. Seperti bintang-bintang yang bersinar ketika musim kemarau. Dia akan terus ada, mewarnai semua musim dengan segala indah dan ceritanya.’

“Untuk seorang Ferdi, yang tak bisa kutemukan seincipun dari tubuhnya, membuatmu menggilainya. Aku jadi lebih tak percaya lagi bahwa ini cinta! Jangan-jangan kau hanya berhalusinasi. Seperti para psikopat yang punya banyak kepribadian!”

“Silakan, Ra, kau ingin mati kan? Demi mahkluk keparat itu! Mati saja! Orang yang kukira tak akan begitu bodohnya, melakukannya. Bunuh diri demi pria yang tidak begitu pantas menjadi alasan untuk itu.”

‘Namanya Ferdi. Aku menemukan sesuatu hal yang tidak pernah aku temukan. Aku mencintainya. Mungkin, karena dia menjadikan dirinya sebagai ayah, kekasih, sahabat, teman. Aku merasa, aku tak bisa kehilangan dirinya.’

‘Jangan terlalu menyerahkan semua perasaanmu pada cinta yang belum pasti, Ra. Aku tak ingin kau terluka’

“Pergilah! Kau hanya orang yang tak tahu apa-apa.Rani berdesis.

Riana tertawa panjang. Derainya di tengah hujan bercampur angin lebih menggidikkan dari tatapan Rani yang seperti silet tadi.

“Apa yang perlu kuketahui. Semua omong kosong itu? Menggelikan! Setelah itu Riana berlari meninggalkannya, tak peduli lagi.

Seumur hidup juga dengan segala sepi-sunyi membelenggu, diluar kewajaran yang wajar, Riana tak pernah menemukan kemarahan seperti ini dalam dirinya. Padahal, betapa dia ingin keluar, dari dunia gelap yang diciptanya dengan banyak kebencian yang terus terbawa. Rani berhasil mengeluarkan dirinya yang pernah hilang. Tapi kini orang yang sama juga malah menjatuhkannya kembali ke dalam jurang gelap, paling gelap yang pernah ada. Membuatnya lebih tak mempercayai apapun lagi.

Apalagi pada suatu hari yang indah itu.

***

Langit itu ada, Na, suatu hari yang indah itu ada.

Aku tahu, ini tak adil, bagimu, bagi Ibu apalagi bagiku. Tapi aku ingin memuaskan diri. Aku ingin semua orang tahu, kalau cinta itu begitu menyedihkan, dan ratapannya menggetarkan semesta. Mengabarkan lirihnya yang sedih pada kekasihku.

Apa yang lebih hebat daripada merindu, Na. Apa yang lebih bodoh daripada mencinta. Karena pada kisah-kisah cinta, Romeo Juliet, Kais Layla. Kematianlah yang membuatnya abadi, kematian juga yang membuat mereka percaya, betapa cinta itu indah sekaligus menyedihkan.

Maafkan aku, Riana, aku gagal memaknai cinta seperti yang kau ingin, mungkin frasa itu pun, telah menjadi begitu hitam bagimu. Kini!

            “Kakak menemukan Diary Rani saat membereskan kamarnya.” Sebutir air hangat bergulir dipipiku. “Baik Riana maupun Rani tak pernah tahu, bahwa Ferdi ikut menjadi korban pada waktu tsunami Aceh.”

“Sedih sekali kisah mereka ya, Kak.” Diara mendesis. Gadis itu mungkin mengingat tunangannya yang empat bulan ini belum ada kabar. Armand, yang pergi bersama tim medis lain ke daerah zona merah.

“Rani meninggal kedinginan, ditemukan warga besoknya. Sebuah langkah yang sebenarnya keliru. Tapi pada akhirnya, Rani berhasil membuktikan. Dengan kematian, dia menemui kekasihnya.” Aku menghapus air di ujung mata, “dan ibu mereka juga meninggal tak lama kemudian.”

“Riana?”

“Riana menghilang sejak saat itu. Beberapa orang bilang dia sering keluar saat hujan turun. Seolah-olah ingin menyeret Rani pulang ke rumah. Sebuah penyesalan yang sangat hebat membuatnya seperti orang gila. Kehilangan ibu dan adiknya pada waktu bersamaan.”

“Aku juga sering takut. Apa yang akan kulakukan, jika mendengar kabar buruk tentang Armand.” Diara berguman.

Sudut hatiku berkelebat rasa kengerian. Perasaan menyedihkan, ketakutan kehilangan seorang yang disayangi ...

Aku segera menepis perasaan ngeri itu. Menatap Diara yang kini juga memandangku.

“Kakak kenapa?” Aku hanya menggeleng.

“Yuk, Di. Kita kedalam. Ingat kau sedang tak sehat. Lebih baik menunggu dan mencari info Armand dari grup-grup WhatsApp-mu.” Diara mengalihkan pandangannya. Menatap hujan yang dari tadi belum juga selesai. Aku perlahan membalikan tubuh.

“Kalian pasti sangat dekat ya, Kak. Kak Ning bercerita seolah Kak Ning sendiri yang mengalaminya.” Gerakanku berhenti. Tegang.

“Mungkin nggak, Kak. Kalau tubuh Riana akhirnya mencair. Karena dia selalu keluar saat hujan.” Angin dingin menerpa kami. Terasa ngilu.

“Yuk, kak. Kita masuk, suhu semakin dingin.” Diara menggamitku yang masih mematung. Diara tersenyum, dan sinar matanya juga tersenyum. Sesaat aku bernapas lega.

“Ayo.” Aku tersenyum.

Biarlah orang-orang tetap mengira Riana telah hilang. Karena sepertinya, aku belum sanggup menatap dunia sebagai Riana.

--End--

Lubuklinggau, 10 Desember 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)