Pentas (Dimuat di Suara Merdeka 03-05-2025)
Pentas
dua puluh jengkal mereka telah lupa
tiga puluh berikutnya, itu sudah
tidak ada
ini benar kemudian mencemooh
ini tidak betul, kau bertepuk tangan
masabodoh tubuhmu memar-memar
tidak ada yang kasihan
tidak ada teman baik
tidak ada pentas yang benar-benar mencintaimu
Lebih Lama
aku ingin hidup lebih lama
aku bisa saja pura-pura tidak mendengar
suara berisik dari selokan
aku beri tahu warna kesukaanku
tetapi kau tidak ada
aku tak punya banyak bayangan
karena kau memang tidak ada
Komidi Putar
bapak tidak pernah mengizinkan
kami naik komidi putar
katanya itu hanya untuk bermata bening
kami pengumpul batu-batu
kami tidak mengenal segala yang menarik
selain mengumpulkan batu-batu
Daffodil
kenapa kau tidak
hidup lebih lama
bumi dan penciptaannya
lihatlah
keanggunan kami menyihir
menanggungnya
dalam rahimku
lahirkan
bunga-bunga daffodil
kau akan tanya dia
secantik apa
Resonansi
kabut beresonansi busuk
wajah-wajah ruang tunggu
segala hal yang gagal disebutkan
seperti sisypus yang malang
terus menerus mendorong batu
mereka telah lama mati
dilihat oleh burung kenari
lebih dingin daripada wajah purbakala
Alpa
kau lupa, apa yang tidak benar
apa yang tak boleh
kau berencana melakukan semua
mengorbankan apa pun
kau terus kehilangan
rumah kita yang sepi
bagaimana bicara
siapa yang mendengarkan
mimpi-mimpi lama
telah kehabisan waktu
bagaimana lagi
ceritanya telah seperti
itu
jalannya sudah sebagai itu
Danau Lumpur
suatu ketika kita
melihatnya
kabut dari
danau berlumpur
bekas rawa-rawa,
bukan?
teman kami
mati saat dikeringkan
mayatnya tak
ada
temanku itu
penasaran
apa betul di sana
berkumpul malaikat
sayap-sayapnya
berjatuhan
setiap ada orang
yang mati
Perayaan
musim selamat
datang, kicau burung
pagi hari
meriah dalam
pot-pot ingatan
cinta sebenarnya
adalah pembebasan
kau suka
mengikatnya dengan dalil
musim kali ini,
tak ada perayaan
Utas
pesorak ditawarkan akun centang biru
pewarta makin bergairah
mereka orang-orang konyol
mati sendiri dalam himpitan
tertawakan kesedihan orang lain
perempuan menentang patriarki
lelaki mencemooh jalan lahir
penyair tidak mendapat tempat
selain reply cuitan
orang-orang
hampir bunuh diri
sementara aku rindu zaman
hanya mengenal Wiro Sableng
Bayangan
rumah tetangga
yang lampunya telah padam
tidak ada bayangan
yang terlihat
2025
.jpg)
Komentar
Posting Komentar