Senandika-Senandika
I
Hidup begitu lucu. Sering merasa terlalu berlebihan terhadap banyak mimpi, ekspetasi yang tak bisa dipenuhi. Kemudian percaya takdir yang buruk itu adalah kesialan.
Aku suka meragukan kemanusiaannya. Sebenarnya betapapun merasa tak ada apa-apa. Aku juga terganggu. Hal-hal kecil itu sangat mengganggu. Tapi cara terbaik (bertahan) adalah merasa tak apa-apa. Sangat banyak hal dirinya kecil lakukan. Memory itu terbatas, tapi sebagiannya akan menyisa sebuah ingatan yang kuat. Begitu kuat. Lalu semua hal menjadi sulit.
(Kalau kehidupan nanti itu ada. Kalau aku nanti hidup lagi di kehidupan setelah ini. Aku ingin ingat perjanjian ini. Aku ingin tidak akan membuang semua harapan orang juga harapanku. Mematahkan mimpi semua orang juga mimpiku.)
Entah lah kalau aku menderita suatu penyakit yang tak bisa sembuh atau aku benar-benar membunuh orang atau aku menjalani sisa umur dengan menanggung penderitaan yang bukan kesalahanku. Entahlah bagaimana jadinya.
Hidup bukan pilihan. Katanya, kita yang memilih hidup, menentukan arah dan takdir. Hanya penemuan yang tetap. Untuk semua kesedihan tertanggungkan, semua rasa kecewa yang sangat menyesakkan. Kenangan masa kecil, keinginan-keinginan yang mengendap lama dan tak terpenuhi, mimpi-mimpi buruk yang sering berkunjung!
Betapapun aku menyesali jalan yang ini, pilihan yang ini, betapapun merasa tak adil, betapapun dicurangi, dikhianati. Aku ingin Kau tetap merengkuhku Tuhan.
Aku tetap berharap, memang ada sesuatu di sini, yang mesti ditemukan! Kalau pun tidak, aku ingin tetap percaya, Kau sayang padaku, selalu sayang padaku. Tidak ada yang sia-sia kan Tuhan? Tidak ada yang percuma. Betapapun kecil dan tak berartinya, semua unik dan berharga. Setidaknya harapan masih -Kau titipkan pada hati yang penuh rasa tak percaya ini.
Pernah merasa berarti, meski pada akhirnya aku tetap bukan siapa-siapa. Menemukan dan kehilangan. Hadiah dan harga! Aku tak mau memikirkan apa-apa. Kalaupun harapan itu hanya harapan. Setidaknya aku percaya. Kau mendengarku!
Setidaknya sampai saat ini aku tetap baik-baik saja. Meski tahunku juga sedatar biasanya.
Kata orang kita harus bermimpi, tetap berharap untuk bertahan! Tapi berencana selalu mengecewakan. Apapun yang terjadi, Ya sudahlah.
II
Tentangnya adalah hujan. Rindu dan cinta sekaligus. Sakit dan rindu sekaligus. Aku ingat lagi tentangnya yang suka bicara. Kita sungguh menyukai hujan menjebak begitu, punya waktu lebih lama untuk bicara. Diam-diam berdoa, hujan lebih lama lagi. Karena tak perlu merasa malu bersama dengannya lebih lama lagi.
Aku tidak melewati usia, saat semua berpusat pada diriku, mengalami semua remaja alami, nonton bioskop bersama, makan berdua dan sekedar keliling kota hanya untuk temu kangen. Aku tidak mengalami berteriak-teriak senang saat teman pria menyanyikan sebuah lagu untuk gadisnya. Ketika bukuku dipinjam lalu buku itu ditulis dengan penuh pesan. Betapa hambarnya hidup seperti itu.
Tidak banyak yang bisa kulakukan dalam masa pandemi, kecuali menjadi salah satu makhluk rebahan dengan semua denting suara piring dan desisan minyak dari penggorengan. Atau kacaunya suara rumpian tetangga yang berteriak-teriak dari rumah mereka. Ada rasa sedih, kehilangan rutinitas yang bisa membuatku bersemangat bangun dan menyiapkan segala sesuatu.
Tanpa sadar membiarkannya, menjelajahi semua hal yang kupunya, merampasnya, menjadikan itu kenangan indah sekaligus sakit, merindunya setiap hujan. Seolah-olah dia selalu muncul dan mengajak bercerita apa saja.
Dalam mimpi-mimpi buruk. Aku terus bermimpi masih menjadi bagian dari ruang kantor dan mendengar beberapa gosip. Memeriksa angka-angka dan deadline dari semua laporan harian dan mingguan. Masih bersemangat memberi catatan-catatan kecil dari setiap tanggal itu, mana yang sudah mendekati deadline dan mana yang tidak. Melihat lipatan-lipatan rapi baju yang dijadwalkan setiap hari dari tanggal satu tanggal tiga puluh. Outfit yang mesti berbeda, rapi dan terencana. Aku menangis kadang-kadang, mimpi-mimpi buruk itu begitu menyesakkan.
Aku terlalu lama berjalan. Terlalu lama mengenangnya. Melihat tempat yang sama, seolah-olah dia akan muncul lagi dan menertawakan kepolosanku yang menyukai hujan. Terus menoleh ke belakang, berharap menemukannya.
Aku temukan adalah pasangan lain yang berjalan bersama. Anak anak berlarian dengan tubuh basah, tertawa, kejar-kejaran!
Apa dulu aku bahagia sama seperti itu?
Seorang gadis lain, berjalan sendirian, menikmati sisa tetes air. Menyukai suaranya yang ramai. Aku menangis.
Kenapa tidak seperti gadis itu saja. Damai seperti itu.
Apa aku terlalu serakah, karena menginginkan banyak hal sekaligus.
III
“Haha, perempuan yang tidak tidak berharga! Apa sih yang diharapkan dari seorang perempuan?”
Dia selalu sinis ketika gadis delapan atau sepuluh tahun di bawahnya tertawa dan menangis hanya karena laki-laki ingusan. Dia merasa jijik dengan telfon manja mereka yang dengan santainya dilakukan dalam area umum. Menjerit norak dan tertawa tanpa perduli orang lain.
Ada juga manusia menilai perempuan. Dengan siapa dia pacaran, berapa banyak laki-laki mengejarnya dan berapa banyak mantannya, dan dia tetap menilai diriku tertinggi, berapa banyak laki-laki aku tolak.
Dia melewati semua hal untuk mencapai derajat lebih dari perempuan. Meski pada waktu tertentu, dia tak bisa menutupi kekurangan gender ini. Dia merasa super, dengan tetap tidak sama dengan para gadis norak yang repot tertawa dan bermanja untuk meraih perhatian adam. Merasa ratu tak kala tidak mempedulikan satupun laki-laki pengecut. Merasa sangat kuat ketika dia menghabiskan separuh usia tanpa merengek. Merasa berbeda, ketika melihat orang tidak sembarangan terhadapnya.
Jalan itu tak pernah berakhir! Sebagai apa perempuan, ketika hati lemahnya dihadapkan. Pada semua gemerlap yang tak dapat ditanggungnya! Sebagai apa dia, berjatuhan dari langit, untuk percandaan hidup yang pahit. Sebagai apa perjanjian dan takdir, ketika mengisi setiap garis tangan manusia. Kenapa hutang itu tak pernah lunas?
Perempuan, harga diri, adab, etika, kemampuan, bisa masak, subur, bertubuh bagus.
Cantik, menikah, ibu?
Lalu sisi wanitanya begitu terluka? Ketika terus dibandingkan dengan perempuan lain. Ketika bahasa makian paling kasar disematkan. Ketika dia harus tersentak, dihina seperti pelacur rendah. Mana dewi, yang katanya setingkat lebih tinggi dari perempuan.
Pengukuhan apalagi ketika mulai tersesat pada kata-kata kotor penyematan dan penghakiman. Ketika harganya ditertawakan dan dijadikan guyonan murah. Karena dia belum menjadi ibu atau menikah.
Mereka terus bergantian mengejek seperti itu
Dia tak bisa mengubah jatidirinya. Stigma yang sering di lecutkan mereka, pecundang-pecundang brengsek itu untuk memperdayanya. Lalu, bagaimana perempuan terhormat itu?
Bukannya, -Dia janjikan kalian yang tidak seperti mereka itu, lebih mulia. Bukannya kalian yang tidak mengikuti barisan mereka itu, adalah dewi. Lalu kenapa kau menjadi begitu terluka. Dia tak bisa lagi membedakan yang mana nyata dan mana mimpi-mimpi.
Seperti matahari pagi tidak pernah muncul lagi! Ketika mengejarnya matahari itu berubah jingga lalu hitam. Dia diam, jatuh dan terluka. Apa yang mungkin, apa yang tidak, yang dibenci dan yang sangat dia suka.
Hidup mengajarkan tentang keinginan, tentang rasa kecewa. Apa yang mustahil, apa yang tidak. Apapun itu, dia pasti ingin semuanya baik-baik saja. Kenapa tak dapat mengapresiasi sesuatu secara sederhana saja. Memahami teman yang pernah berbohong, persahabatan dua orang wanita dan sering berakhir dengan pertengkaran. Laki-laki yang selalu merasa kurang dengan satu wanita, laki-laki yang bisa mencinta beberapa wanita sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Wanita yang merasa cukup dengan dicukupkan lahiriahnya, wanita yang bisa mengabdi setulusnya meski disiksa lahir bathinnya. Wanita yang dijadikan sebagai sapi perahan bagi suaminya yang bajingan. Wanita yang selalu jadi objek kesalahan untuk laki-laki yang salah.
Mencintai dan dicintai, tanpa perlu menderetkan banyak alasan untuk itu, memahami didikan keras seorang ayah yang telah menoreh luka ini terlalu dini! Pasrahnya seorang ibu yang mengangakan luka yang lain.
Kenapa tidak seperti mereka saja yang tak pernah merasa terjadi apa-apa. Kenapa tidak memahami penolakan seorang-orang teman karena keterbatasannya? Kenapa juga tidak melihat mereka berbohong demi kebaikanmu. Karena kemudian merasa sulit terbebas dari luka-luka kecil ini? Karena kemudian mulai tahu luka dan sepi ini lebih dari luka dan sepi itu sendiri. Atau juga seperti mereka. Gelisah. Tak jua kunjung tenang.
Dia tak pernah memandang orang sekelilingnya, apa yang mereka butuhkan atau apa yang mereka inginkan. Karena dia tidak tahu bagaimana memulainya. Dia merasa berkerja terlalu keras. Padahal dahan yang makin tinggi, makin mudah diguncang kan angin. Padahal tembikar posisi puncak paling mudah retak dan pecah.
Memenuhi ruang pikirnya dari analisis-analisis yang dibuat sendiri. Kemudian Ketakutan-ketakutan dari spekulasi itu. Karena mencari, tak jua menemukan.
‘Apa aku akan terus gelisah, dan mulai merasa bersahabat dengannya.’
Atau pikiran-pikiran kecil yang selalu terbelenggu rapi dari salah satu bilik hati tak terjamah Tak jua lepas, hingga brtahun-tahun.
Namun, bagaimana dengan perasaan iri, perasaan ingin, ingin seperti mereka. Bersama, berbagi, tertawa tanpa harus memikirkan hal-hal rumit lainnya.
Berakhir seperti apakah semua kesedihan dan pertahanan ini. Harga perjuangan yang berhasil dia jaga bertahun-tahun. Setelah semuanya, kesenangan, kebahagiaan-kebahagiaan kecilnya, masa remajanya, waktu dan airmata?
Atau tetap saja menjadi perempuan yang terus bertanya tentang masa yang dia tidak tahu.
(Aku ingin tetap percaya. Mungkin nanti aku akan sangat bahagia, mungkin nanti seseorang itu sangat berarti, mungkin malaikatku nanti akan sangat baik hati. Mungkin pun nanti, aku akan merindukan kesedihan-kesedihan ini).
Mungkin dia telah terlalu jauh menjauhkan dirinya. Dan tak bisa lagi menjadi anak-anak sederhana, berfikir sederhana. Melihat segala sesuatunya dengan sederhana. Ternyata tak sesederhana itu. Mengenali luka dan sepi. Lebih dari sepi dan luka itu. Betapa lelahnya melewati semua ini. Mengembara di rimba asing, hanya untuk memenuhi dahaga itu, mereda haus itu, tapi tak juga memenuhinya.
Cerita indah yang selalu dia dengar tapi tak pernah ditemukan.
Bagaimana kalau dia tahu setelah sekian lama berusaha. Sekian lama singkirkan perasaan minder, perasaan terkucil. Dan tetap tak berarti apapun. Apa dia akan menangis?
Bagaimana jika langit itu. Suatu hari yang indah itu. Tak pernah ada.
Selalu kau ingat betapa indahnya waktu itu. Dan bertanya: bagaimana besok?
Mungkin sebenarnya dia tidak pernah tahu. Atau memang tidak ingin tahu. Atau parahnya karena merasa terlalu tahu, padahal tak tahu apa-apa. Makanya begitu.
Berakhir seperti: seseorang yang pergi, kematian ataupun seperti pernikahan dan kelahiran.
Sebuah akhir yang tetap saja menyedihkan.
Lalu berpesan kepada perempuan lugu berumur empat belas tahun itu:
(Dik) Pertemanan pria dan wanita itu tidak mudah. Kalau bukan dari kita yang menyulitkannya. Orang-orang luar-lah memperburuknya.
(Aku ingatnya pada jaman itu kita, kau dan perempuan-perempuan memang selugu itu ya)
Ketika memilih jalan itu. Di ujungnya adalah tujuan.
Kalau tak punya tujuan. Tidakkah itu sia-sia? Kalau sebenarnya tak ada sesuatupun. Kalau memang tak pernah ada apapun. Apalagi yang bisa dipakai sebagai alasan. Apalagi yang bisa dipertahankan.
(Hanya aku sangat ingin tahu Rabb, apa yang tengah ku bayar!)
(Apa yang salah pada hidupku, Ibu)
Sebentar dia merasa asing. Sama sekali tidak tertarik dengan kegalauan remaja mereka.
(Tapi sangat mungkin, aku lebih sangat tidak menarik bagi mereka)
IV
Kau pikir apa tentang terisolir. Aku pernah merasakan yang lebih parah dari itu. Manusia memang lebih mengerikan daripada kematian. Hidup sangat menyebalkan kadang-kadang, pada suatu hari aku juga pernah mendapatkan kasih sayang yang besar karena kasihan. Kau tahu rasanya, tidak lebih baik daripada rasa benci yang kau dapatkan. Tidak ada rasa yang lebih menyedihkan daripada rasa dikasihani. Aku merasa tak pernah pantas. Aku takut berbahagia, takut untuk tersanjung.
Aku selalu menangis setiap musim yang berganti. Aku selalu takut pada waktu, aku takut pada perubahan, peralihan orang-orang yang datang dan pergi. Aku takut, aku tak seperti yang kau harapkan. Itulah sebenarnya. Aku merasa tidak bisa menerima kebencian ataupun rasa kasihan dari orang yang kucintai. Tidak, tidak sedetikpun, aku rasa aku bisa bertahan dengan perasaan itu.
Aku dipenuhi dendam, ya, karena manusia selalu berubah mengerikan jadinya. Aku tak pernah berniat membenci melebihi kapasitas kebencian yang harus kulakukan. Tapi hidup juga selalu menyodorkan kebencian demi kebencian. Kau tahu rasanya tak pernah diharapkan. Atau kebaikan kita dicampakkan.
Kau tahu rasanya tak pernah dicintai. Mungkin aku begitu naif menjalani semua takdir dan suratanku. Terlalu mendramatisir semua perasaanku. Tapi begitulah adanya. Bukan aku tak punya rasa untuk cinta. Tapi aku takut pada cinta. Aku takut tak bisa menahan rasa hancur dan sedih karenanya. Selama ini, kau pikir kenapa aku bisa bertahan dengan semua perasaan ketakutan itu. Karena aku tak pernah merasa mencintai dengan benar. Aku tak pernah percaya ada manusia yang tulus. Atau manusia mau mengulurkan tangannya padaku dengan ikhlas. Selama hidupku, adalah untuk tidak mempercayai manusia manapun.
Tidak menyertakan seluruh perasaan pada apapun. Sekalinya aku pernah tersungkur. Sekalinya aku aku pernah jatuh. Aku terjebak untuk merasa pantas bahagia, pantas tersanjung, pantas untuk merasakan dicintai, pantas dihormati dan ternyata semua juga adalah kebohongan. Kau tahu rasanya? Seluruh duniaku gelap. Kematian selalu menjadi hal yang lebih indah dari apapun. Sejak itu juga aku selalu memikirkan tak ada yang pantas untukku, tak ada hal yang mestinya buatku tersanjung. Tak ada tempat untukku berlabuh. Dan apa aku salah mengunci semua pintu itu.
Menutup semua jalan itu. Manusia, dari aku kecil, telah menjelma hal yang lebih mengerikan daripada hantu, lebih menakutkan daripada kematian. Aku adalah sebongkah luka.
Aku lebih nyaman sendirian. Aku nyaman melihat jalan-jalanku. Sinar matahari, embun pagi, hujan kala senja. Aku tak bisa percaya bisa menjadi seperti harapanmu. Sementara aku pun tak berani berharap, tak berani bermimpi. Mimpi-mimpi itu cukup sebagai mimpi. Sebagai pelabuhan untuk hidupku yang kadang melelahkan.
**

Komentar
Posting Komentar