Review: Sang Peramal by Chandra Bientang
Judul : Sang Peramal
Penulis : Chandra Bientang
Penerbit: Nourabooks
Suatu malam, saat sedang mengadakan jamuan, Imar Mulyani seorang peramal yang terkenal menghilang. Sampai seminggu, sebulan hingga setahun, sampai tidak ada yang menyebut nama ini lagi. Seolah-olah semua orang memilih melupakannya, mungkin sang peramal yang terkenal ini akan segera dilupakan kalau saja seorang perempuan muda bernama Yasmin, mengaku sebagai anak sang peramal ini tidak muncul.
Melalui Yasmin kita diajak berpetualang mencari tersangka dan motif atas hilangnya Imar, kita juga dikenalkan dengan cerita-cerita dan berbagai prasangka yang meliingkupi Imar. Ternyata perempuan yang terlihat ramah, supel dan disukai ini banyak menyimpan misteri, bahkan para tetangganya juga, tak satupun yang mengenalnya secara baik. Petualangan Yasmin juga membuat dugaan-dugaan lain jadi lebih menarik, sesuatu yang lebih besar membayangi kasus itu. Ketegangan demi ketegangan juga dikemas dengan baik sampai kita pada ending yang penuh plot twist.
Ada banyak tokoh yang terlibat dengan latar belakang masing-masing dan unik. Menariknya, tidak satupun dari cerita yang digambarkan ini sia-sia, bule ilegal, penjual kendi, penjual minuman, bahkan tetangga-tetangga mereka yang tadinya tampaknya tak begitu terlibat.
Ceritanya detail, polanya penulis meramu misteri dan membawa kita menuju ending itu juga sangat keren. Kalau kau suka cerita thriller, buku ini layak dikoleksi, plot twist meskipun banyak itu terasa pas dan mengesankan.
Satu-satunya yang membuatku terganggu adalah ceritanya si Imar ini peramal terkenal yang reputasinya sudah dikenal di mana-mana bahkan diundang ke TV nasional.
Kita semua tahu masih banyak yang sinis terhadap ramalan, juga pasti banyak yang tak percaya pada orang yang disebut ‘orang pintar’. Aku juga paham untuk urban thriller murni, cerita ini juga pasti bukan tentang ramalan.
Dari awal pembaca sudah dikasih hint kalau ramalan-ramalan tersebut hanya pancingan, diketahui kemudian Imar punya kelebihan sendiri yang tidak diketahui orang-orang, yaitu rahasia kelam para klien-nya. Namun, cara meramal yang diceritakan di buku ini terlalu amatir. Untuk menunjang reputasi Imar yang sudah meramal puluhan tokoh terkenal, rasanya itu terlalu amatir, sama amatirnya dengan temanku yang sok-sok bisa membaca tarot dengan hanya mengandalkan buku petunjuknya saja.
Akan lebih baik, penulis hanya kasih gambaran beberapa tokoh terkenal saja yang jadi langganan Imar, satu sampai tiga tokoh sepertinya cukup. Tidak usah dibikin seheboh mungkin untuk menunjang itu. Atau kalau bukan itu, setidaknya membuat salah satu contoh adegan Imar pernah melakukan ramalan yang bisa membuat pembaca yakin kalau dia bukan sosok amatir, jadi sepadan dengan reputasi yang telah dibangun oleh narasi sebelumnya.

Komentar
Posting Komentar