Review: Suicide Knot
Judul : Suicide Knot
Penulis : Vie Asano
Penerbit: Noura Books, 2019
Saya tertarik dengan blurb di belakang buku ini. Seseorang yang mengadakan live lalu bunuh diri. Benarkah itu bunuh diri?
Idenya yang cukup keren. Melihat reviewnya di goodsread cukup meyakinkan. Jujur ekspetasiku tinggi, setidaknya kalau sudah jadi buku, ya pasti sudah bagus, begitulah harapanku.
Yang menarik, pembukaan ceritanya bagus, diksi dan kalimat-kalimat yang dipilih penulis cukup keren dan mudah dipahami. Bab pertama, kedua juga masih oke. Meski, entah pada halaman berapa saya mulai merasa monolog-monolog ini membosankan, mungkin ada pengulangan kalimat, pengulangan penjelasan, jadi itu terasa membosankan. Cara penulis menuntun pembaca menuju konflik cerita dengan teka teki yang bikin penasaran, dan kode-kode dan pola yang pernah mereka buat (Anne dan Karen) bersama dulu cukup bagus.
Ada beberapa hal yang menurut saya agak cacat logika. Dalam cerita, Anne dan Karen adalah sahabat yang sangat dekat, mereka selalu bersama dan bersekolah pada sekolah dan kelas yang sama, lalu apa pentingnya dan kenapa Anne sangat repot sekali menciptakan kode-kode itu, hanya untuk memberi tahu kalau dia sedang di-bully.
Sungguh mengherankan Anne tak bisa bilang, “Karen, aku dibully, Karen si anu mengancamku.” Dan sebagainya daripada menciptakan kode yang seperti ... yeah merepotkan sekali. Hal tersebut lalu dijelaskan oleh penulis bahwa sebelumnya mereka bermasalah dan ada kesalahpahaman kecil, saya akhirnya agak menerima penjelasan ini.
Namun, terus tetap merasa janggal. Karena pada akhirnya, motif dan plot twistnya juga tidak semencekam itu untuk membuat hal-hal demikian. Maksud saya, kode-kode ciptaan Anne jadinya seperti tidak terlihat natural lagi jika di-compare pada realitas. Oke ini fiksi ya, tapi setidaknya pembaca juga tidak harus merasa cerita itu terlalu tidak nyata. (Mungkin ekspetasi saya terlalu berlebihan).
Saya rasa ceritanya akan lebih baik, jika Anne dan Karen sekolah pada tempat berbeda. Jadi kode-kode tersebut akan lebih masuk akal. Atau harusnya bukan Anne yang menyukai misteri dan menciptakan kode, lebih baik itu murni dari Karen sendiri.
Hal kedua, adalah kehadiran tokoh yang tidak terlalu penting tapi dipaksa berperan. Contohnya Sam, kenapa saya tidak merasa kontribusinya tak terlalu penting, ya. Tanpa Sam terlibat pun, cerita ini akan tetap jalan. Kehadiran banyak tokoh seolah banyak berkontribusi pada kematian Anne ini terlalu banyak, jadi eksekusi cerita agak keteter. Termasuk pengarahan kecurigaan pada salah satu tokoh (yang terakhir), terasa banget dibuat-buatnya, karena yeah pada akhirnya itu hanya seperti menambah-nambahkan tersangka dan cerita saja.
Saya cukup suka dengan cara Karen menuntut balas atas pembullyan itu. Penjelasannya juga detail di sini, membuat ceritanya berkembang secara baik, apalagi memang kenyataannya lebih mudah menghukum lewat netizen dan media sosial daripada langsung dengan prosedur yang rumit. Lebih efektif. Akhirnya kita menuju plot twist terakhir.
Mengesankan, di luar dugaan. Bagaimana, ya. Cukup keren. Tak menyangka. Kok bisa? Ini juga mengingat pola yang sering dipakai oleh penulis yang sering saya baca.

Komentar
Posting Komentar