Novel: Warna- Warna Mirna
Bab: 22. Bimbang
Bagaimana hidup jadi tidak begitu istimewa lagi, Erlangga sering memikirkan itu. Banyak moment dan merasa tak ada satupun hal yang bisa diingatnya dengan terkesan.
Misalnya saat kencan dengan seseorang. Seorang gadis cantik, dan hubungan mereka berjalan cukup baik, sampai gadis itu berkata:
“Aku benci sekali melihat mereka.” Dia menatap anak-anak kecil yang berdiri menempelkan wajahnya pada dinding-dinding kaca.
“Menjijikan! Bisa-bisa kafe murahan begini lebih murahan lagi dengan membiarkan anak-anak pengemis itu berkeliaran!”
“Murahan? Pengemis?” Erlangga mengernyitkan keningnya.
“Bukankah itu yang mereka lakukan?”
Erlangga setuju dengan pihak kafe yang seperti sengaja membiarkan pengemis dan anak jalanan itu berkeliaran hingga mengganggu pemandangan. Tapi berkata dengan begitu jijiknya. Erlangga merasa gadis itu juga memandangnya dengan sudut yang sama.
Erlangga tersenyum. Lalu berkata “Haruskah kita akhiri ini sekarang?”
“Ayo, aku sudah muak.” Dia berdiri.
“Bukan.” Erlangga menggeleng. “Kita!” dia kembali duduk. Menatap lelaki didepannya agak terkejut.
Erlangga masih tersenyum lagi. “Itu juga berarti aku, murahan.”
“Sayang, ayolah. Kau tak mesti tersinggung. Aku tahu, kau lebih dari mampu untuk kencan di tempat yang lebih bagus. Aku hanya sedikit tak mengerti kenapa kau tetap membawaku ke tempat seperti ini.”
“Apa kata-kataku tadi salah?” Gadis itu menuntut.
Erlangga menggeleng, “Tidak, kau benar. Kau juga jujur, tidak seperti gadis munafik lainnya yang suka berpura-pura manis sambil menahan jijik.”
“Hanya, kau tidak bisa menahan diri sebentar untuk tidak mengatakannya. Apa kencan pertama kita harus diisi dengan makian pada anak-anak, yang mungkin saja mereka tidak mau terlihat menjijikan seperti itu?”
“Kau salah paham.”
Erlangga menggeleng. “Aku cukup paham.”
Perpisahan itu mestinya mereka berpelukan dan saling mengucap selamat tinggal. Tapi perempuan itu pergi begitu saja. Hanya rasa marah menyisa di ujung matanya, atau seperti kecaman: kau bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini.
Hari-harinya berlalu seperti biasa, tidak ada kehilangan. Sama seperti menonton musim pertandingan bola yang tidak mengesankan. Tidak menarik untuk dibicarakan dengan penuh semangat. Hanya karena hanya satu-satunya acara yang ada waktu itu. Kemudian tiba-tiba itu berakhir begitu saja. Sama seperti itu.
Dan bertahun-tahun setelahnya, Erlangga tidak lagi ingat apa mereka pernah bersama, atau mungkin dia tidak pernah berkencan pada gadis seperti itu. Seperti mimpi acak yang muncul sembarangan satu kali. Begitu saja!
***
Ķata orang untuk melupakan seseorang. Kau harus jatuh cinta lagi. Bagaimana kalau kau tidak menemukannya? Apa yang kamu lakukan untuk melupakannya, sementara kau harus terus bertemu dengannya.
“Tunggu saja.” Celline tersenyum, “Yang punya akun sedang sekarang sedang memverifikasinya.” Dia menambahkan, akun pejuang keadilan tersebut, tidak bisa langsung memposting satu berita, mesti mengecek dari beberapa sumber juga untuk menunjang kevalid-an yang akan mereka viralkan.
Netizen Indonesia tidak homogen tentu saja, malah sebagian adalah buzzer untuk kepentingan tertentu, banyak dari mereka biasanya mencari cela untuk menjatuhkannya. Beberapa pejabat pernah dijatuhkan oleh akun itu. Bisa gawat jika mereka menyampaikan berita yang tidak valid. Akan jadi bumerang.
Erlangga tersenyum dan mengangguk.
“Aku sabar kok.” Diam. Hening.
Sejak nama Mirna muncul di antara mereka, suasana menjadi lain. Celline sedikit menjaga jarak. Erlangga sepertinya juga tidak berniat meluruskan apa-apa. Meyakinkan Celline misalnya. Entah dia tak peka atau memang menganggap itu bukan apa-apa. Atau karena sekarang gadis bernama Mirna itu sudah membuka hatinya untuk Erlangga. Celline sungguh benci mengira-ngira.
Update di: Karya Karsa, Bakisah dan Kwikku
Komentar
Posting Komentar