Buku: Memoirs of a Gheisa
Memoirs of Gheisa.
Ini bukan review, mungkin sebuah curhatan saja. Atau seperti referensi dari novel online pertamaku. Bukan Cinta Biasa.
Aku
lupa kapan membelinya. Tapi akhirnya aku memilih itu adalah buku
favoritku diantara semua buku tebal, thriller dan bergenre yang sama.
"Bagaimana jika kau sampai pada akhir hidupmu hanya menunggu pria yang tak akan pernah datang padamu."
Kutipan ini aku jadikan favorid dalam semua biodataku.
Aku terbius cara bercerita oleh sang penulis, yang dengan sangat lamat, hati-hati mengajak kita memasuki pikiran Chiyo. Bagaimana
awalnya, bertemu dan menjadi gheisa. Aku menyukai semua cara bercerita
penulis, yang menggambarkan kimono, suasana, tarian dan semua intrik
dalam dunia gheisa. Semakin membaca semakin aku terbius, dan merasa aku yang menjadi Chiyo itu sendiri.
Pemikiran, pikiran dan semua hal yang dilakukan oleh Chiyo a.k.a Sayuri adalah demi menemukan
Ketua. Dan mereka saling mendekat tanpa saling mengetahui. Salah satu hal yang membuatku jadi tergila-gila semua tentang kisah cinta pertama.
Chiyo
menjadikan Ketua sebagai pusat semestanya. Karena uluran tangan pria
itu membuatnya punya tujuan dalam hidupnya yang putus asa. Aku pun
merasa berdebar saat Chiyo kecil berlari menuju kuil dengan beberapa doa
dan harap, menatap masa depannya dengan pasti. Mencapai Ketua, demi menemukan
kembali Ketua, tidak perduli Ketua mengingatnya atau tidak, tidak
perduli Ketua mengenalnya atau tidak!
Cerita
ini ditutup dengan sangat sangat membuat speechless. Ketua juga yang
menolong Chiyo diam-diam melalui Mameha, menjadikannya salah satu Gheisa
terbaik pada masanya.
Cerita cinta yang sederhana. 80 persen cerita ini adalah tentang Gheisa, 20 persennya tentang kisah romance, tetapi aku sesuka itu!
Sedikit banyak aku juga mengadopsi cerita ini dalam ceritaku, mungkin bisa dibilang aku menirunya.
Oh ini sedikit info saja sih, jika kalian tidak mengenal Masumi dan Ketua yang karakternya sedikit aku selipkan dalam ceritaku.
Kalian boleh percaya boleh tidak, aku sering mengatakan, bahwa cinta pertamaku adalah Masumi Hayami. Sosok dingin, jenius dan dewasa dalam serial topeng kaca. Mungkin bertahun-tahun aku membuat dirinya juga sebagai standar. Aku sadar akhirnya bukan Cinderella yang meracuniku, tapi Topeng Kaca. Bacaan-bacaan pertama yang diperkenalkan dalam hidupku. Mirip juga seperti kumpulan cerpen dalam Kalung dari Gunung, makanya aku lebih suka cerita biasa-biasa saja tapi punya makna mendalam. Seperti halnya Wiro Sableng, serial pertama yang aku kenal dan menemani masa kecilku yang sedikit sengsara ...
By: Dimarifa Dy

Komentar
Posting Komentar