Review: Heaven


 

Heaven

 

Mengandung spoiler

 

Jadi gini, gue bikin review biasa aja kali ya. Karena sebenarnya, perasaan gue nggak enak-enak banget baca ini. Jujur sih tertarik dengan buku ini karena gue suka tulisan di buku ini. Terutama kalimat ini, “Kita sekutu.” Kayaknya menantang adrenalin gitu kan. Gue langsung excited dong, mikirnya ini pasti keren ceritanya.

 

Jadi si Aku adalah siswa bermata juling, karena keadaannya ini dia menjadi bahan bullyan oleh orang populer di kelasnya. Bullyan mereka cukup sadis dan agak detail. Bahkan beberapa paragraf aku mual membacanya.

 

Hebatnya si Aku ini biasa aja, lho. Nggak ada jenis trauma dalam penceritaannya, dia mengatakan semua apa yang ingin dia katakan, tanpa perasaan depresi, kayak kita menuliskan sebuah cerita yang biasa aja. Beberapa part dia dan sekutunya itu malah menceritakan inner child mereka masing-masing dan nggak berhubungan dengan pembullyan. Mungkin semacam penegasan karakter, kenapa mereka berdua terima aja saat dibully, oh ya si sekutu ini seorang tokoh cewek yang juga dibully. Nah kesamaan nasib inilah ternyata yang sampai penulis bilang mereka sekutu. (Padahal pengertianku sekutu itu adalah dua orang yang bersama-sama dalam membela sesuatu, melawan atau apa kek. Lah ternyata gitu doang hahaha) Si cewek lumayan melawan sih, meski diem-diem doang melawannya.

 

Lalu di mana letak judul pada buku ini. Hal itu juga nggak lebih mengesalkan. Karena judulnya bahkan kalo nggak diceritakan, itu juga nggak akan ngaruh sama ceritanya. Nggak ada kontribusinya sama sekali. Kesel nggak. Kesel banget. (Sebelum habis bacanya gue mengkhayal mereka melakukan pembalasan di surga, saking depresotnya gue)

 

Satu ketika si Aku ini dibully sangat sadis. SANGAT SADIS, LHO. Gue capslock nih buat penegasan. (Sebelumnya aku juga mengalami benturan kecil di kepalaku dan itu nyeri berhari-hari, dan perasaan nyeri itu kerasa lagi saat baca bagian ini).

Dannnnnn si Aku tetap terima aja, nurutin semua apa maunya si pembully, supaya begini dan begitu. Padahal dia hampir mati. Hampir mati. Heran deh, kenapa dia kagak mati. Oh iya, ceritanya abis kalo begitu, ya.

Si Aku ke rumah sakit, karena semua orang menyarankannya. Kata si dokter sih enggak apa-apa. Berita baiknya, dokter yang merawat Aku, mengusulkan untuk mengoperasi matanya.

 

Di rumash sakit, si Aku bertemu nggak sengaja salah satu pembully-nya. Gue sempat berharap lagi ada sebuah gebrakan di sini. Misalnya Aku mukulin kepala orang ini pake batu kek (Gue sadis banget, ya) atau apalah itu kan buat nunjukin kalau dia melawan gitu lho. Tetapi apa! Si Aku hanya kayak protes ke pelaku, “Ngapa sih kalian bully gue. Kenapa nggak biarin aja gue. Anggap aja gue nggak ada. Gue juling juga bukan gue yang mau bla-bla...)

 

Jawaban pelaku: “Kenapa lo, ya memang harus lo, karena kebetulan lo yang ada di situasi itu. Nggak ada hubungannya dengan lo juling atau nggak, lo mau dibully ya resikolah kenapa lo yang mau bla-bla ....”

 

Mereka malah kek berdebat dalam seminar astagaaaa, tentang perasaan korban dan pelaku. Demi Tuhan, gue benci banget bagian ini. Dan ini intinya semua hal yang ada dibuku ini, inti yang mau disampekan penulis. Gue setuju sama kata-kata penulis di sini: Lo dibully bukan karena lo punya kekurangan, ya karena lo sendiri menyediakan diri lo buat dibully.

.

Seratus. Gue setuju banget. Tapiiiii, gue nggak suka disampaikan oleh mereka berdua dengan situasi begitu. Jujur kalo nggak  mikir gue susah payah keluar uang buat beli bukunya, dah males bacanya.

Gue nggak tahu kalau yang baca buku ini adalah anak-anak yang menjadi pelaku dan korban seusia mereka (16 tahun). Bagus kalo mereka tahu maksud penulis nulis ini: Ya, lo dibully karena lo sendiri yang mau. Kenapa lo nggak melawan, kenapa lo yang melawan itu hanya dalam bayangan lo aja. Khayalan lo doang!

 

Bayangin aja kalo yang baca adalah pelaku pembullyan. Bisa bisa mereka anggap kelakuan mereka yang suka bully itu bener. Ya ngapa lu mau dibully, ya kan. Lu sendiri yang bego!

 

Keselnya satu lagi, penulis menulis ini dengan menggebu-gebu, pake POV aku sebagai korban tapi kurasa dia bener-bener nggak tahu bagaimana perasaan si korban sesungguhnya. Dia hanya menggurui korban bully itu. Mereka jadi korban, ya karena mereka mau sendiri. 

 

Enggak begitu konsepnya, Markonah. Dah ah, kesel gue.

 

RATE 3/5. Gue kasih tiga karena diksi dan gaya bahasanya bagus.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)