Lampion Cinta
Lampion Cinta
Genre : Romance
Diterbitkan di Lentera App. Gratis.
Bab 1: Lampion dan Sebuah Surat
Dear diriku, yang berusia 20-an.
Aku mengirim surat ini melalui dimensi waktu, pesta lampion malam ini, festival budaya, saat suhu dingin pada puncaknya. Minus lima derajat.
Kalau surat ini tiba dengan selamat di tanganmu, dengarlah baik-baik kata-kata ini.
Dirimu di usia hampir kepala tiga seperti tidak punya masa depan sama sekali. Kau masih saja khawatir, apa hidupmu terus akan baik-baik saja. Apa kau bisa mengatasi hal yang tak bisa kau atasi. Apa kau punya sedikit gambaran tentang masa depan!
Tidak, tidak ada. Saat itu kau belum punya gambaran sama sekali. Kau masih saja seorang yang cemas dan naif. Mengira kau akan terus punya waktu, padahal kau hanya menyia-nyiakannya.
Kau terus berfikir, sepuluh tahun lagi, apa kau tetap stuck di jalan yang sama. Pencemas seperti itu? Yang hanya bisa ketakutan saat pencuri masuk dan mencongkel jendela kamarmu. Yang hanya bisa membeku, saat ular menjadi tamu tak diundang, berdesis diujung kakimu, dan kau tak bisa bergerak sama sekali, kecuali menangis?
Kau tahu, yang paling disesalkan dari dirimu saat berusia muda, kau begitu berambisi menjadi seseorang seperti impian, padahal kau tak punya begitu banyak kekuatan. Kau terus bermimpi, memasang tembok tinggi dan terus mendongak pada bintang di langit. Padahal kau hanya manusia biasa saja. Sama halnya seperti yang lain. Tidak unik, apalagi istimewa untuk bisa mencuri perhatian dunia, atau ...
Pangeran tampan dari negeri yang entah.
Dalam usia hampir kepala tiga, kau hanya kesepian, tak begitu punya banyak teman. Dan penuh kekhawatiran. Kau hanya iri pada kebahagiaan orang lain, dan mulai kerkhayal, seandainya tidak menolak si fulan atau furqon. Seandainya tidak terlalu lugu memercayai teman kerjamu yang licik! Seandainya otak kecilmu yang menjengkelkan itu tidak asyik bikin skenario sendiri.
Kau tidak akan tetap berjalan ditempat. Sementara orang-orang sekelilingmu bergegas menuju finish.
Dan kau terlambat segala-galanya.
Aku benar-benar katakan, Dear, kau adalah manusia penuh ragu. Perlahan rasa percaya dirimu menghilang setiap tahun berganti, umurmu semakin tua, waktu hidupmu terus berkurang, dan kau belum mencapai apa pun, kau tidak berada di mana pun!
Selama 10 tahun kedepan, kau terus memaksa merasa bangga pada dirimu yang sempurna, lalu menyadarinya bahwa kau tak sesempurna itu, menjadi begitu terlambat!
Waktu terus bergerak, kau berada di jalan yang sepi. Jalan yang tidak menuju kemana pun. Kau hanya bisa menangis, menyesali ini itu, andai begini dan andai begitu.
Kau merasa dirimu cantik dan pintar, padahal yang lebih cantik dan pintar jauh lebih banyak. Kau tetap bukan siapa-siapa antara jutaan gadis cantik lainnya di negeri ini.
Ada, antara mereka hanya dengan rebahan, tetap akan jadi rebutan karena terlahir sebagai puteri. Bagian lainnya, seperti ratu yang hanya perlu berjalan sedikit dan melempar senyum, semua akan memuja-muji mereka, karena mereka memang telah terlahir sebagai putri, atau ratu! Atau mereka yang menjadi beruntung setelah melewati kesulitan yang panjang.
Lalu tanya pada dirimu, apa kau seistimewa itu, untuk bisa seperti mereka. Kau hanya pengecut dan penakut, bersembunyi di balik tembok ego, hanya membuat dirimu kian tidak terlihat. Bukankah, itu hanya harapan bodoh?
Mereka yang berjuang, untuk menjadi sesuatu antara ribuan lainnya, tapi kau hanya masih bermimpi sebagai tuan puteri! Kau begitu pemalas, bahkan ... bersikap seolah kau reinkarnasi Cleopatra.
Ingatlah, kau bukan salah satu perempuan istimewa itu, tidak ada pangeran yang memperjuangkanmu seperti mereka yang berebut Dewi Sita atau Drupadi. Tidak ada!
Kau harus mengingatkan dirimu untuk tidak terlalu angkuh. Lepaskan sedikit harga diri dan ego, yang pikirmu akan membantu mendapatkan lelaki idaman, ingat kau hanya wanita biasa. Seperti kebanyakan perempuan yang tak terlihat dalam banyak cerita!
Dear diriku yang berusia 20-an.
Kau tak punya banyak teman sepuluh tahun lagi. Kau terlanjur benci pada banyak pengkhianat dan manusia yang katamu hypocrite dan licik. Kau lupa, pada dasarnya manusia itu adalah hewan, emosi murni mereka adalah binatang. Menjadi sangat keji dalam keadaan genting, dan insting mencari selamat saat dalam bahaya.
Mestinya, kau tetap baik hati kan?
Tapi kau menjauhi mereka dan menutup dirimu dari semua cemoohan dari luar, menunjukkan dirimu memang seperti itu. Kau pasti lupa pada prinsip, jika kau terus benar dan adil, semesta akan bersatu-padu menolongmu. Bukankah, itu hanya seperti omong kosong. Kau tidak baik hati. Kau bahkan egois, menyalahkan ini itu untuk ketidakberuntunganmu.
Dear diriku yang berusian 20-an
Ini mungkin hal yang terakhir, yang akan kutulis.
Dengarlah, kau tidak bisa menemukan kebahagiaan, jika setiap hal yang sedih membuatmu kian mendendam. Lepaskan semua hal yang terjadi, maafkan orang-orang yang telah mengkhianatimu. Jangan tahan dirimu untuk bahagia dan gembira, jangan memaksa berlaku terlalu dewasa, bersenang-sennanglah sesuai usiamu.
Oh, mungkin, kau juga mesti sedikit menurunkan standarmu, aku mengerti kau sangat ingin menunjukkan dirimu keren, tapi faktanya kau tak sehebat itu. Hiduplah sesuai dengan yang memang harusnya kau lakukan, jangan bermimpi menyeberangi lautan, hanya karena kau pandai berenang di sungai.
Karena tidak ada seorang pun di sana mau memberitahumu, kau salah dan tersesat. Hanya kau sendiri yang bisa menolong dirimu sendiri. Nah, sebelum kau menyesali banyak hal karean pemikiran yang salah, kau harus menekan egomu sedikit. Tidak apa membiarkan sesekali orang yang curang, tidak apa sesekali merasa tidak adil. Karena dengan terus menyimpan dendam, juga tidak akan membawamu kemana pun. Kecuali kau hanya berakhir sendirian!
Aku berharap kau benar-benar menemukan surat ini dan memperbaiki apa-apa yang telah aku rusak pada masa itu, hanya membuatmu menderita dan kesepian dalam sepuluh tahun kemudian.
Dirimu yang sebentar lagi berusia 29 tahun.

Komentar
Posting Komentar