Hymne Ibu (Puisi yang dimuat di Kompas.id 11 Mei 2024)

 

Hymne Ibu (Kompas 11 Mei 2023)

/1

cerita-cerita ibu yang mengabsen monster

dalam ingatannya lalu ditransfernya dalam

ingatanku. Monster itu bernama nemesis

kepalanya dipenuhi ular!

 

monster lainnya memegang cambuk api

lidahnya sedikit panjang

ah barangkali ibu salah mengingat nama

aku tak mau mengingat-ingat!

 

orang-orang yang bergerak lambat

semakin lambat, ringan seperti kapas

pada suatu hari

manusia tidak ada lagi di mana-mana

mereka berubah samar lalu hilang

 

bayangan pohon ranggas yang mati

tunggul-tunggul kayu berubah jadi lubang-

lubang kecil yang siap mengisap tubuhku

wajah ibu juga sering berubah

menjadi lubang-lubang itu

 

ibu, dulu sekali kau sering bernyanyi

lagu tuan putri yang ditinggal mati indung-nya

selalu hampir tertidur

aku suka sekali dengan mantranya

yang menyedihkan

perasaan yang tak tertanggungkan

 

kerinduan ganjil itu, menjelma rumah kosong

di depan sana

perlahan berubah menjadi cerita horor

dalam sebuah drama yang kita malas menontonnya

 

tidurlah, perintahmu

lalu bangunlah lebih cepat

gentong air sebelum subuh menunggu tidur

lagu dari semua sihir dan warna bulan

mengucap doa-doa

sebelum hantu blau penunggu sawah

mengganti semua doa

 

mereka yang tidak terlahir dari sepasang cinta

mungkin dulunya merupakan

batu yang digulingkan sisypus

 

tetapi, aku jarang tertidur, ibu

pada catatan buruk

tulisan-tulisan lama

mengurap cahaya dari balik jendela

menaruh satu harapan

lalu satu harapan lagi

terus menerus mengulang ritual yang sama

supaya cukup dalam ingatanmu

 

cerita yang tak habis sepanjang dini

menjadi anak sungai berpusar

berbaris mengalir jauh ke dalam peradabanmu

ratusan musim kemudian

 

ibu, apa kau terpikir sebelumnya

pola atau garis atau titik

mestinya dia tidak menjadi peradaban

melewati pintu itu!

 

/2

ia terkurung dalam sebuah ruangan

bercahaya simetris, langkan yang sejajar

mimpi-mimpi bersambung dan berulang

menghapal mantra-mantra

 

ayahnya sedang diperiksa oleh dokter

katanya dia punya sakit kanker

sepertinya semua manusia punya gejala kanker

mereka saja tidak sadar

 

ibu tersenyum kasih

antara pohon yang berubah dua

membuka jalan-jalannya

di sana surga, di situ neraka

diang dingin dari parafin

saling berkata, mari menjadi api!

 

pesta orang kesepian, dia terus bercerita

sampai kau pusing sendiri

merunut kembali ceritanya

orang tua yang tak tahu diri

hidup terlalu lama

menyalahkan ini itu. Andai begini andai begitu

kau tahu cerita-cerita kesepian itu

mereka setan yang menari

 

tetapi manusia memang suka sekali menyerah

juga merasa paling korban

dari bermacam situasi

 

terhadap banyak keinginan

terhadap mimpi yang tak kunjung

terhadap ekspetasi tak memenuhi

mereka percaya kesialan

adalah kutukan

 

Hymne Musim

/1

hari ini hujan rupanya tidak datang sendirian

dengan segala wangi yang menawan

wangi petrichor dan rumput kering

wangi yang rindu

kau mengumpulkan dalam kendi

untuk dipamerkan kepada peri-peri

yang bertugas sebelum dini

 

kau tidak sabar melihat mataharinya bersinar

cinta  yang sungguh mencengangkan

kelahiran lalu kematian

klise seperti hikayat ibu

 

kemudian pergi dengan suka-cita

tepung mangir jatuh seperti langir

dari putri yang terjaga jam tiga malam

kisah yang kemudian tak diingat orang

aku begitu sedih memikirkannya

 

dia menjadi kabut yang tidak kabur

saat periode dingin atau musim angin

atau subuh yang kita kenang dalam banyak waktu

memungut daun yang berjatuhan

berteriak mengalahkan riam

berpusar dalam lubuk, tidak berhenti

 

bagaimana mendaras kisah ini seorang diri

sementara aku juga tidak siap meninggalkannya.

 

/2

bunga yang jatuh dari pohon mangga

matahari berkilau dari seberang rumput

angin tengah musim berjalan lambat-lambat

pohon mangga tua, menunggu mati

 

musim manapun

aroma tanah yang basah adalah sama

kita yang menyesapnya jadi berbeda

kau yang merindu hujan bersama kabut asap

akhirnya leleh seperti sayap Ikarus

dalam sinar matahari

 

gadis tersenyum datar dari balik jendela

angin dan musim yang sama

seperti dua puluh tahun sebelumnya

ada banyak rindu yang tidak bisa mengaku

memenuhinya, pulang kepada-Mu

kau tidak lagi menyentuh kaca akhir-akhir ini

kau benci katanya

 

selamat tinggal musim yang berlalu

cinta yang berjatuhan

berganti warna

 

Lubuklinggau, 2023

 

Mother's Hymn

/1
stories of a mother who left monsters
in her memory and then transferred them to
my memory. The monster is called nemesis
its head is filled with snakes!

the other monster is holding a fire whip
its tongue is a little long
ah maybe mom remembered the name wrong
I don't want to remember!

people who move slowly
slower, lighter as cotton
one day
humans are no longer everywhere
they turn vague then disappear

shadow of a dead deciduous tree
wood stumps turned into holes
small holes ready to suck my body
mother's face also often changed
into those holes

Mother, a long time ago you used to sing
the song of the princess whose mother lost her mother
always almost asleep
I really liked the mantra
it was sad
the feeling was unbearable

that strange longing, transformed into an empty house in front of you
slowly turning into a horror story
in a drama that we are too lazy to watch

go to sleep, you ordered
then wake up early
barrels of water before dawn waiting for sleep
songs of all magic and colors of the moon
saying prayers
before the blau ghosts watch over the rice fields
replaced all prayers

those who were not born from a pair of loves
may once have been
the stone that Sisypus rolled away

but, I rarely fall asleep, mother
on bad notes
old writings
anointing the light from behind the window
putting one hope
then another hope
keep repeating the same ritual
so that it sticks in your memory

stories that never end throughout the dawn
become swirling tributaries
march flowing deep into your civilization
hundreds of seasons later

Mom, have you ever thought before
patterns or lines or dots
he shouldn't be civilization
through that door!

/2
he was confined in a room
symmetrically lit, parallel ledges
continuous and repetitive dreams
memorizing mantras

his father is being examined by a doctor
he says he has cancer
it seems like all humans have symptoms of cancer
they just don't realize it

mother smiles with love
between trees that change in two
opening the paths
there is heaven, there is hell
cold fire of paraffin
say to each other, let's be fire!

lonely people's party, he keeps telling stories
until you get dizzy yourself
tracing back the story
old people who don't know themselves
live too long
blame this and that. If it's like this, if it's like that
you know those lonely stories
they're dancing devils

but humans really like to give up and also feel like they are the most victims of various situations

against many desires
against dreams that don't come
against expectations that don't come true
they believe bad luck
is a curse

Hymn of the Seasons

/1
today the rain apparently does not come alone
with all the charming fragrances
the fragrance of petrichor and dry grass
the longing fragrance
you collect in a jug
to be shown off to the fairies on duty before dawn

you can't wait to see the sun shine
truly astonishing love
birth then death
cliche like a mother's tale

then left with joy
mangir flour fell like rain
from the daughter who woke up at three o'clock at night
a story that no one remembers then
I'm so sad thinking about it

he becomes a mist that does not blur
during the cold period or wind season
or the dawn that we remember for many times
picking up fallen leaves
screaming to beat the cascade
swirls in the depths , not stopping
how to recite this story alone
while I am also not ready to leave it.

/2
flowers falling from the mango tree
the sun glistening across the grass
the mid-season wind moves slowly
an old mango tree, waiting to die

whatever the season
the aroma of

wet earth is the same
we who sip it are different
you who miss the rain with the smog
finally melt like the wings of Icarus
in the sunlight

the girl smiled flatly from behind the window
the same wind and season
as twenty years before
there are many longings that cannot be confessed
fulfilled, home to you
you no more touching the glass these days
you hate the word
goodbye passing seasons
falling love
changing colors

Lubuklinggau, 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Mana Anak-Anak Sina Menghilang (Juara 2 Sharepedia)

Rindu dan Dongeng-Dongengnya (Ayo Bandung 14-12-24)

Pertemuan Pada Sore yang Tidak Biasa (Top 10 Paling Menginspirasi, Cinta dalam Cerita)