Senandika Patah Hati
Selamat malam Orion, bahkan jika waktuku telah selesai. Tentang kelahiran. Atau mimpi yang terhempas. Cahaya dari cahaya. Diam sebagai Diana dalam sebuah formasi. Katakan pada aurora. Aku telah selesai!
Mungkin ia memperhatikan meski sebenarnya tidak terperhatikan. Mungkin ia hanya kesepian meski hidupnya penuh hingar. Mungkin ia cuma merasa tak lengkap, meski tak kehilangan apapun. Mungkin ia telah punya belahan jiwa itu sejak dulu, meski hanya sebagian jiwa.
Perempuan pada akhirnya akan melupakan, saat ia telah berdamai dengan waktu, dengan takdirnya! Saat ia telah lelah menangis dan tersedu. Perempuan akan tersenyum. Selalu tersenyum, bibirnya senantiasa,berdesis memohon agar kau baik-baik saja sekaligus juga tidak baik-baik saja.
Perempuan itu mungkin telah melupakan pertama kali matamu memujanya, pertama kali rayuan itu berkecipak di bibirmu untuknya, pujian-pujian itu meracuni mimpi-mimpinya. Mungkin suatu saat kelak ia telah melupakan wajahmu. Ia tak lagi berhasil mengingat pendar saat kau memandangnya penuh cinta!
Tetapi kau tak akan pernah tahu rasa sakit yang terus terbawa olehnya. Seumur hidupnya. Bahkan ketika ia telah mati sekalipun!
Apa lelaki hanya bisa memuja. Lalu mencampakkan! Perempuan berkedip jengah, tersenyum malu! Dan menangis sedih. Berapa lama kau bertahan mencintai. Selama itu juga ia mungkin bisa menata hatinya, mengembalikan sebagian mimpi-mimpi yang mungkin seluruhnya telah kau curi.
Berapa lama kau menjengahkannya dengan seluruh pujian cinta saat kau tergila-gila, selama itu mungkin ia telah berhasil mengenyahkan kenangan-kenangan yang telah kau sesakkan kedada kecilnya yang sempit.
Namun, rasa sakit akan melukainya seumur hidupnya. Kau memaksanya merasakan kehilangan yang begitu pedih. Ia terus menyimpan rasa itu bahkan ketika wajahmu tak lagi tereplika di sudut terkecil otaknya sekalipun.
Tahukah kau dendam perempuan. Ia adalah luka yang tak pernah kau bayangkan! Ia adalah rasa yang tak bisa kau bayarkan dengan apapun!
Dan kutukannya akan terhisap langit dan sewaktu-waktu akan dijatuhkan ke atasmu!
Seperti hujan!
Ibu pernah bilang, kekuatan wanita terletak pada kecantikannya, pengabdiannya! Baginya cinta adalah memberi. Tapi Ibu tak pernah beritahu aku, kekuatan lain yang mestinya jauh lebih besar dari itu, dari apapun untuk harga tidak berdayanya. Menahan rasa sakit!
Apalagi tentang sebuah cerita. Aku telah lama memikirkan apa sebaiknya menyerah, menjadikanmu sebagai pangeran. Seorang pahlawan. Kemudian hidup dengan mudah, tanpa kenangan. Tanpa harus menangis hebat terhadap penghinaan itu. Seorang perempuan bodoh. Perempuan yang sangat bodoh. Terjatuh begitu keras, melewati batas bumi. Menuju neraka.
Sebenarnya kau tak pernah ada di sana ‘kan? Kau hanya seperti petualang yang kebetulan mampir dalam hidupku yang tak menarik. Aku masih sama seperti gadis enam belas tahun itu. Dipenuhi dongeng-dongeng, memujamu dengan membutakan seluruh panca-indranya, untuk menyadari, kau bukan malaikat yang dikirimkan Tuhan.
Mestinya kau tetap seperti itu, tidak menjatuhkan dirimu di hadapanku. Tetap kukenal sebaik itu, sememesona itu. Jadi aku tak mengingatmu dalam kebencian. Harusnya kau tak mengulurkan tangan itu! Tidak merecoki mimpi-mimpiku dengan harapan. Harusnya kau tetap menjaga jarak. Tak terjangkau, aku lebih suka mencintai dan memujamu sebagai itu, sebagai fiksi.
Aku bodoh, mengabaikan bahwa tidak ada cerita sempurna dalam kehidupan nyata. Aku bodoh, memercayai dan mengambil tanganmu, untuk akhirnya, membunuh sebagian jiwa itu.
Kau datang, bersama jurang-jurangnya. Meninggalkanku sendirian di dasarnya yang paling gelap dan sunyi. Seperti mengejar kotak pandora, begitu bernafsu membukanya, tapi akhirnya itu menjadi penderitaan yang tak berakhir.
Pertama kalinya mengutukmu, aku tak sudi kau bahagia!
Lubuklinggau, 2020
Komentar
Posting Komentar